121.

Setelah mampir terlebih dahulu ke studio radio dan menunggu Gama yang masih sedikit mengerjakan kerjaannya di studio itu, Aletta dan Gama segera pergi menuju parkiran.

Aletta memasangkan helm pada kepalanya, helm milik Gama itu ternyata memiliki ukuran yang besar, sehingga kepalanya sedikit tenggelam ke dalam helmnya.

Gama terkekeh melihat Aletta yang berkali-kali menaikkan helmnya agar matanya tidak terlalu tertutup. Gadisnya ini terlihat sangat lucu.

“Berat ga helmnya?” tanya Gama.

“Sedikit.”

“Kalo berat aku pinjem helm punya Haidan yang kecil.”

Aletta menggeleng, “ngga usah, berat dikit doang kok.”

Gama tak kunjung melajukan motornya, membuat Aletta bertanya, “ayo?”

“Pegangan,” ujar Gama singkat.

Aletta langsung memegang jaket Gama dari sampingnya.

Gama langsung memajukan motornya dan Aletta sangat terkejut sehingga refleks memeluk pinggang Gama.

Aletta memukul pundak Gama, “Rese!”

Mendengar itu, Gama tertawa ringan. Tak biasanya laki-laki itu menjahili Aletta seperti ini. Biasanya pun Aletta hanya berpegangan pada jaket yang dikenakan Gama, tidak pernah sampai memeluk pinggangnya.

“Mau makan siang dulu?” tanya Gama.

“Ayo,” jawab Aletta sembari melepaskan lengannya yang melingkar di pinggang milik Gama.

Gama melirik Aletta lewat kaca spionnya, “pegangan.”

Aletta menurut, gadis itu kembali melingkarkan tangannya pada pinggang milik Gama.

Gama kembali fokus dan melajukan motornya dan sampai pada sebuah restaurant yang baru saja Aletta mention di twitternya.

Benar ternyata, Gama memang se-peka itu.

“Eh, kok ke sini?” tanya Aletta.

“Mau makan, kan?” Gama melepas helmnya.

“Iya tapi bukan di sini. Pengen di warteg, lagi pengen sambel pecel.”

“Beneran mau di warteg?” tanya Gama meyakinkan.

Aletta mengangguk cepat.

“Ya udah.”

Gama kembali memakai helmnya dan segera melajukan motornya kembali.

Aletta mengerti, sangat mengerti situasi yang sedang dialami oleh Gama walaupun Gama tidak pernah bercerita padanya. Laki-lakinya itu pasti yang akan membayar makanannya. Ia tidak mau memberatkan apa lagi harus makan di sebuah restaurant yang mewah, yang pastinya dengan harga menunya yang tidak murah.

“Eh, tapi pouch bag aku kayanya ketinggalan deh di studio kamu,” ujar Aletta tiba-tiba.

“Nanti abis makan mau ambil dulu gapapa?”

“Gapapa,” jawab Gama.