122.

Selesai makan siangnya, Gama kembali mengantarkan Aletta ke studio kampus untuk mengambil pouch bagnya yang tertinggal. Namun, Gama hanya menunggu di parkiran.

Aletta sedikit berlari kecil menuju ruang studio radio. Sesampainya di sana, matanya langsung tertuju pada pouch bag miliknya yang berwarna merah muda di atas meja.

Walaupun isinya tidak terlalu penting, tetapi Aletta sangat menyayangi pouch bag pemberian sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan Pia.

Aletta segera mengambil pouch bagnya. Namun, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah notebook yang ada di rak meja bagian bawah.

Seketika tangannya terdorong untuk mengambil notebook itu. Aletta meraihnya dan terlihat lah cover notebook yang berwarna hitam itu dengan sticker huruf A yang cukup besar.

Aletta membuka halaman pertamanya, terlihatlah bahwa notebook itu adalah milik Gama.

Aletta kembali membuka halaman selanjutnya. Terkejut, sangat terkejut bukan main.

Sebuah polaroid yang menempel di halaman ke duanya itu dan terpampang jelas itu adalah foto Gama bersama seorang gadis.

Tentunya gadis itu bukanlah Aletta.

Di bawah polaroid itu tertulis sebuah nama yang sebelumnya pernah Aletta lihat di notes dalam ponsel milik Gama.

“Alena.”