124.

Setelah menerima pesan terakhirnya dari Aletta, Gama segera berlari menuju ruang studio untuk menghampiri Aletta.

Sesampainya di sana, terdapatlah Aletta yang masih berdiri tegak sembari memandang foto yang tertempel di lembar kedua notebook milik laki-lakinya itu.

Gama menghampiri Aletta dan gadis itu sadar bahwa sudah ada Gama di hadapannya.

Tangan milik Gama terulur, menandakan bahwa ia meminta Aletta untuk memberikan notebooknya padanya.

Namun, Aletta tak kunjung menyerahkannya, hanya terus menatap Gama dan berharap Gama menjawab pertanyaannya.

Karena Aletta yang hanya diam, tak memberikan reaksi apa-apa, Gama akhirnya membuka suara.

“Mantan aku.”

Deg.

Aletta diam seribu bahasa.

Gadis berambut panjang sebahu itu seperti mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak mengeluarkan kata-kata sedikitpun.

Otaknya terus memutar kembali ucapan-ucapan Melio yang sebelumnya pernah berkata bahwa Gama tidak pernah mempunyai pengalaman menjalin hubungan selain dengan dirinya.

Melio berbohong? Atau … memang karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya Gama mempunyai mantan?

Mata milik Aletta menatap mata milik Gama dengan sangat lekat, seakan meminta Gama untuk menjelaskan sesuatu.

Melihat itu, Gama menahan tawanya, membuat perasaan Aletta semakin tidak karuan.

Sebentar, mantan? Berarti, Gama masih mempunyai rasa kepada mantannya?

Akhirnya Aletta membuka suara, “ah … oke.”

“Yuk pulang,” ajak Aletta dan hendak mendahului Gama untuk keluar dari ruangan ini.

“Al ….”

Mendengar namanya dipanggil, Aletta kembali menengokkan dirinya ke belakang.

Gama langsung menghampiri Aletta dan membawanya ke pelukannya.

Sesekali laki-laki itu mengusap pelan surai milik Aletta, membuat Aletta bingung harus senang atau tidak.

“Adik aku ….”

“Alena adik aku ….”

“Kembarannya Jay, tapi dia udah ngga ada.”

Lagi dan lagi, Aletta dibuat terkejut olehnya. Gama ini sedang mempermainkannya atau bagaimana? Senang sekali membuat hidupnya seperti roller coaster.

“Kalo kamu ngga percaya, aku tunjukkin foto dia sama mama, sama papa, sama Jay juga,” ujar Gama sembari melepaskan pelukannya dan hendak membuka ponselnya untuk menunjukkan bukti bahwa Alena adalah adiknya.

Namun, gerakan tangannya untuk membuka ponselnya itu terhenti ketika ia melihat Aletta menunduk dan matanya yang terlihat sangat berkaca-kaca. Mungkin hanya mengedipkan matanya sekali pun, air matanya akan terjatuh.

“Eh? Kamu kenapa nangis?” tanya Gama sembari langsung memegang kedua pundak Aletta.

Tak ada jawaban dari gadis itu, dan benar saja, air matanya pun mulai terjatuh.

“Aku ada salah ngomong?”

“Tadi aku bercanda, Al ….”

Gama kembali memeluk Aletta, kali ini dengan pelukan yang sangat erat.

“Al, maaf ya? Tadi aku bercandanya kebangetan, ya?”

Gama terlihat sangat khawatir dan merasa bersalah. Laki-laki itu paling benci ketika melihat mamanya harus menangis karena ulah papanya. Ia merasa takut bahwa ia akan seperti papanya yang selalu membuat wanitanya menangis.

Aletta melepaskan pelukan Gama, “Al? Maaf, ya? Aku cuma bercanda, maaf kalo bikin kamu—“

“Gapapa.” Aletta memotong ucapan Gama.

Aletta hanya tersenyum kaku dan tak ada percakapan lagi diantara mereka. Membuat Gama semakin merasa bersalah.

Lucu sekali hubungan ini.