155.

Aletta berkali-kali mengirimkan pesan dan menelfon Gama, tetapi tak ada jawaban dari laki-laki itu membuat Aletta memutuskan untuk pergi.

Siapa yang tidak kesal? Dari dua hari yang lalu Gama menjanjikan sesuatu, tetapi laki-laki itu selalu menghilang tiba-tiba tanpa kejelasan.

Namun, alih-alih pulang ke rumahnya, gadis berbaju biru itu malah pergi menuju rooftop yang ada di kampus ini.

Sesampainya di rooftop, netra milik Aletta langsung menangkap laki-laki berkaus hitam yang sedang menopangkan tangannya pada pegangan besi dan mendongakkan kepalanya menatap langit yang hari ini terlihat cerah.

“Jay?”

Laki-laki itu menengok. Benar, itu adalah Jay.

Jay langsung membalikkan tubuhnya, menghadap Aletta. Secepat kilat tangannya ia sembunyikan ke belakang.

Aletta menghampiri Jay. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya.

“Liat burung.”

“Burung?”

“Tuh banyak burung gereja lewat.”

Aletta hanya terkekeh mendengar jawaban dari anak laki-laki itu.

“Kaya anak kecil,” ujar Aletta.

Jay berbalik tanya, “lo ngapain ke sini?”

“Pengen aja.”

Aletta menatap ke bawah dan mendapati ada butiran-butiran abu rokok. Sehingga sontak ia bertanya, “lo ngerokok?”

Bisa dilihat bahwa raut wajah Jay berubah dan terlihat sedikit terkejut ketika Aletta melontarkan pertanyaannya.

Seperti tertangkap basah, laki-laki itu merasa seperti tidak bisa menutupinya lagi karena jelas-jelas Aletta pun melihat tangannya sedang menghimpit sebatang rokok yang sudah terlihat pendek.

“Jangan kasih tau Gama, ya?”

Aletta terdiam sebelum beberapa detik selanjutnya gadis itu mengangguk meng-iyakan.

Jay membuang puntung rokok itu dan menginjaknya dengan kakinya agar api kecilnya itu padam.

“Gama lagi sibuk terus, ya?” tanya Aletta.

“Ga juga.”

Aletta mendekat pada sebuah pegangan besi dan menopangkan tangannya di sana.

“Abang lo orangnya emang susah buat terbuka, ya?”

Jay menatap Aletta dan mulai tertarik pada topik yang mungkin akan menjadi obrolannya.

Jay malah berbalik tanya, “lagi berantem sama Gama?”

Aletta segera menggeleng, “gue sama dia ngga pernah berantem.”

“Ga asik dong hubungannya.”

Mendengar itu, Aletta sontak menatap Jay. “Emang,” ujarnya.

Tanpa sadar, Aletta mulai mengeluarkan kata demi kata, seolah ia sedang bercerita dan mengeluarkan kekesalannya kepada Jay.

“Ini gue yang aneh atau gimana, ya? Bukannya orang pacaran saling terbuka? Saling berbagi keluh kesah? Saling cerita satu sama lain?”

Jay mendengarkan Aletta sembari menatapnya dengan sangat lekat.

“Cuma sekedar cerita hari ini ada apa aja, hari ini apa yang bikin seneng, apa yang bikin ga seneng, terus saling ngedengerin satu sama lain. Bukannya yang namanya ngejalin hubungan tuh kaya gitu, ya?”

Aletta terus berceloteh tanpa menatap lawan bicaranya. Gadis itu bercerita sembari menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.

“Terus kalo ngga kaya gitu, pointnya di mana? Cuma sekedar status “pacaran” aja?”

“Terus tujuannya pacaran apa?”

“Tujuannya komitmen apa?”

“Aneh ga sih hubungan gue sama dia?” Aletta kembali menatap Jay yang ada di sampingnya.

Ternyata laki-laki itu sedang mendengarkannya sembari menopangkan tangan kirinya ke besi pegangan itu dan menaruh dagunya di telapak tangan kirinya. Seolah sedang memperhatikan dosen yang sedang memberikan materi.

Aletta menghembuskan napasnya, kemudian memejamkan matanya sejenak. “Lupain,” ujarnya singkat.

Aletta tersadar atas apa yang telah diucapkannya. Bodoh, kenapa ia tidak sadar dan seolah seperti mengalir begitu saja untuk menceritakan semuanya kepada Jay?

“Padahal dulu anaknya ngaduan,” ujar Jay yang membuat Aletta kembali melirik ke arahnya.

“Dulu nih ya, jatuh dikit langsung “mamaaaahhh”, dicakar kucing dikit langsung “mamaaahhh”. Padahal dia yang gangguin kucingnya. Narik-narik buntutnya, diunyel-unyel terus, ya marah lah kucingnya,” ucap Jay dengan ekspresinya yang mendalami.

Mendengar itu, Aletta terkekeh.

Jay spontan langsung menatap Aletta ketika mendengar tawa kecilnya, sehingga tanpa sadar terbentuk senyum yang sangat tipis di bibir milik laki-laki itu.

“Yang paling anjingnya, DIA MAKEIN CANGCUT GUE BUAT JADI BAJU KUCINGNYA!” Jay berkata dengan raut wajah yang sangat mendalami peran seolah sedang memojokkan Gama.

Tentunya gadis yang ada di hadapannya ini tertawa terbahak, mengetahui kelakuan Gama ketika masih kecil.

Perbincangan mereka kembali berlanjut sampai lupa pada point obrolan yang diceritakan oleh Aletta.

Tingkah dan perilaku Jay yang unik dan selalu bisa menyesuaikan situasi. Tentunya bisa membuat lawan bicaranya nyaman dan tidak canggung.

Canda dan tawa yang menemani mereka seolah mereka sudah kenal dekat. Padahal, baru kali ini mereka mengobrol cukup panjang.