168.

Setelah menghabiskan waktu bersama hanya dengan sekedar makan ramyeon dan jalan-jalan menikmati suasana malam di kota Jakarta, Evan dan Silla akhirnya memutuskan untuk pulang.

Evan mengantarkan Silla ke kostnya terlebih dahulu, dan kini ia sudah sampai di area kostan Silla.

Evan menengok ke arah Silla yang ternyata sedang tertidur. Ia menatap Silla cukup lama.

Evan terkekeh kemudian menciptakan senyum di bibirnya.

“Cantik,” gumamnya.

Alih-alih membangunkan Silla, laki-laki itu malah merubah posisi duduknya ke samping, sehingga ia bisa melihat wajah Silla dengan lebih jelas.

“Ga tega gue banguninnya,” ujarnya pelan.

Rambut Silla yang sedikit menutupi wajahnya itu, membuat tangan Evan tergerak untuk menyelipkan rambutnya ke telinganya.

Evan perlahan mengusap pelan kepala Silla dengan sangat lembut.

“Hei, bangun,” ujarnya pelan.

Tak ada reaksi dari Silla, Evan kembali membangunkannya dengan menepuk pipi Silla dengan pelan.

“Bangun, La ....”

Silla akhirnya perlahan membuka matanya.

“Udah nyampe,” ujar Evan.

Silla mengucek matanya, kemudian memfokuskan pandangannya.

“La,”

“Hm?” Silla hanya bergumam, karena ia masih sedikit merasa ngantuk.

“Kemarin ngobrolin apa aja sama Kia?”

Mendengar pertanyaan itu, Silla langsung memiringkan kepalanya, menengok ke arah Evan.

“Yang pasti bukan ngomongin lo,” jawabnya.

“Ya, iya. Ngomongin apa?”

“Ngga tau, lupa. Gue ngantuk, mau masuk.”

Silla meraih handphonenya yang ada di dashboard mobil milik Evan.

“La,”

Silla tak menggubrisnya, ia hendak membuka pintu mobil itu. Namun, Evan memanggil namanya dengan nada yang sangat manja, membuat tangan Silla terhenti untuk membuka pintu mobil tersebut.

“Lalaaa..”

Sumpah, Silla tidak bisa menahan rasa gemasnya ketika laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan ‘Lala’ sembari menggembungkan pipi gembulnya.

“Apa?”

Bukannya menjawab, Evan malah menyengir.

“Apa sih?” tanya Silla lagi.

“Ngga, hehe. Gih, masuk.”

Silla menggelengkan kepalanya, tingkah laki-laki ini memang suka aneh.

“Hati-hati pulangnya, jangan ngebut.”

Evan mengangguk sembari mengembangkan senyumnya. Kemudian ia memupuk pelan kepala Silla, sebelum perempuan itu keluar dari mobilnya.