168.

Gama dan Aletta kini sudah berada di dalam sebuah bus metromini.

Mungkin sebagian orang terutama warga Jakarta sudah tidak asing lagi dengan bus yang bernama metromini ini. Sebuah bus yang menjadi angkutan umum yang ada di Jakarta.

Namun, karena bus itu penuh, Aletta dan Gama terpaksa harus berdiri dan hanya memegang handle grip yang ada di bus itu.

Gama yang sedari tadi menggenggam tangan Aletta dan menuntunnya untuk berdiri di hadapannya.

“Ih, aku mau naik metromini tuh pengen ngerasain duduk dikursinya, malah penuh.” Aletta mendesis membuat laki-laki yang tepat berdiri di belakangnya itu terkekeh.

“Pulangnya naik grab aja, ya? Nanti takut penuh lagi kalo naik ini lagi,” ujar Gama yang langsung dibalas gelengan oleh Aletta.

“Ga, mau naik ini lagi.”

Mereka kini kembali terdiam. Kembali pada pikirannya masing-masing.

Tetapi percayalah, pandangan Gama tidak pernah lepas dari Aletta yang sedang berdiri di hadapannya dengan posisi yang membelakanginya.

Laki-laki itu sedikit khawatir jika busnya tiba-tiba rem mendadak. Pasti Aletta akan terjatuh karena gadis itu terkadang melepaskan pegangannya pada handle grip.

Berkali-kali Aletta menghembuskan napasnya dengan berat dan Gama yang ada di belakangnya pun sadar akan hal itu.

“Kenapa?” bisik Gama.

Aletta menolehkan sedikit kepalanya, “kakinya kesemutan dikit.”

Pandangan Gama langsung tertuju pada laki-laki yang mungkin sekitar lima tahun lebih tua darinya sedang duduk manis di kursi sembari memainkan ponselnya.

Gama menepuk pundak laki-laki itu sebanyak dua kali, membuat laki-laki itu menoleh.

“Mas, maaf, tempat duduknya boleh buat istri saya? Istri saya lagi hamil.”

Aletta segera menoleh ke arah Gama karena sangat terkejut dengan ucapannya.

Laki-laki itu mengiyakan, “boleh-boleh, mas. Kebetulan saya juga turun bentar lagi.” Laki-laki itu segera berdiri dan mempersilahkan Aletta untuk duduk.

Aletta menatap Gama seakan berkata, “maksudnya? Istri? Siapa yang lagi hamil?”

Gama hanya tersenyum tipis melihat Aletta yang kebingungan dan menolehkan dagunya ke arah kursi yang sudah kosong itu sebagai isyarat agar Aletta segera duduk.

Aletta pasrah, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada seorang laki-laki yang bersedia memberikan kursi untuknya.

Kini hanya tinggal Gama yang berdiri. Aletta menggelengkan kepalanya atas kelakuan laki-lakinya itu.