174.
ㅡ
Evan tidak menuruti permintaan Silla yang menyuruhnya untuk mematikan rokoknya dan turun dari rooftop.
Satu batang roko telah habis dihisapnya. Namun, Evan kembali mengambil satu batang rokok lagi dan dinyalakannya dengan korek gas yang kemana-mana selalu dibawanya.
Evan menghisap rokoknya, kemudian menghembuskannya membuat asap dari rokoknya itu keluar dari mulutnya.
Terus saja, ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya.
Entah, dengan seperti ini Evan merasa lebih baik. Padahal sepertinya kini tidak ada alasan untuk tidak baik-baik saja.
“Epan,”
Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang memanggil namanya. Namun nalurinya sudah bisa menebak, siapa yang memanggilnya.
Perempuan itu adalah Kia.
Kia mendekat, melihat di bawah kaki Evan sudah terdapat satu batang rokok.
Kia menepis rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah milik Evan. Rokok itu terjatuh dan Kia langsung menginjaknya, berusaha mematikan api yang masih ada di ujung rokok tersebut.
Evan menghembuskan napasnya. “Ngapain?” tanyanya tak suka.
“Aku yang harusnya nanya, kamu ngapain ngerokok sampe dua batang gini?”
“Apa urusannya sama lo?”
Evan hendak pergi meninggalkan Kia, namun perempuan itu segera menahan tangan Evan.
Evan menepis dengan kasar tangan Kia yang memegang tangannya.
“Epan, kenapa kamu jadi suka ngerokok?” Tanya Kia.
“Masih aja ya, lo ngurusin hidup gue,” ujar Evan dengan nada yang tak suka.
“Tapi kamu ngerokok sampe dua batang gitu, itu ngga ba—“
“Bukan urusan lo.”
Ucapan Kia terpotong oleh Evan.
“Mending lo urusin tuh cowok lo,”
“Urusin pertunangan lo.”
Setelah berbicara seperti itu, Evan segera pergi meninggalkan Kia.
Kia mengernyitkan dahinya bingung, ia tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Evan.
“Tunangan? Siapa yang mau tunangan?”