176.
ㅡ
Gama terkejut ketika ia hendak membayar beberapa makanan yang belum ia bayar dari lima hari yang lalu, tetapi Bu Yayah, pemilik kantin itu berkata bahwa Gama tidak perlu membayarnya.
Entah atas dasar apa, tetapi Bu Yayah hanya tersenyum seraya berkata, “udah ngga usah, ngga apa-apa.”
Karena Gama yang merasa tidak enak hati, Gama memutuskan untuk membantu mencuci piring milik Bu Yayah yang ada di kantin itu.
Bu Yayah sudah berkali-kali berkata bahwa Gama tidak perlu mencuci piringnya, tetapi laki-laki itu tetap melanjutkan aktivitasnya.
Sebenarnya ini adalah ulah Aletta. Aletta yang membayar semua makanan yang belum Gama bayar di kantin ini, dengan berkata pada Bu Yayah untuk tidak memberitahunya bahwa ia yang sudah membayar semuanya.
Bu Yayah yang sedang mengelap piring lainnya juga sembari mengobrol dengan Gama. Bu Yayah berkata bahwa suara siaran radio Gama terdengar sampai kantin, sehingga Bu Yayah tidak pernah absen mendengarkan siaran anak laki-laki itu.
Gama sangat ramah, ia merespon dengan baik ujaran-ujaran wanita paruh baya yang sedang mengelap piring dan gelas.
“Nak Gama pacarnya neng Aletta, ya?” tanya Bu Yayah tiba-tiba.
Gama sejenak memberhentikan aktivitas tangannya yang sedang mencuci piring ketika mendengar pertanyaan itu.
Gama hanya tersenyum menjawabnya, tetapi Bu Yayah paham atas senyuman Gama yang menjadi jawaban dari pertanyaannya.
“Yang baik-baik ya sama dia,”
“soalnya baik anaknya” ujar Bu Yayah.
Lagi-lagi Gama tersenyum simpul. Memang Aletta baik, sangat baik. Bahkan detik ini pun Gama berani bersumpah, atas sangat beruntungnya dia bisa memiliki Aletta.