180.

Setelah Aletta mengucapkan sebuah kata yang membuat Gama terkejut, kini mereka sudah berada di dalam studio.

Gama duduk berhadapan dengan Aletta, hanya terhalang sebuah meja diantara mereka, tetapi tidak menghalangi Gama untuk menggenggam dua tangan milik gadisnya.

“Aku cuma sedikit bantu mama aja.”

“Emang mama di kerjaannya lagi ada sedikit masalah, tapi ngga apa-apa kok.” Gama meyakinkan Aletta sembari mengembangkan senyumnya yang sangat teduh itu.

Aletta sedari tadi melihat ke arah telapak tangan kiri Gama yang masih dibalut oleh perban dan Gama pun sadar akan hal itu.

Gama mengangkat dan memutar-mutar pelan pergelangan tangannya, menunjukkan kepada Aletta bahwa tangannya itu baik-baik saja.

“Ngga apa-apa, kan? Luka dikit doang.”

Jujur saja, Gama sangat khawatir ketika Aletta berkata bahwa ia ingin menyerah. Tangannya tak kunjung melepaskan genggamannya pada tangan milik Aletta. Terus ditatapnya wajah gadis yang sedang menunduk itu.

“Mau pulang sekarang?” tanga Gama.

Aletta mengangguk dan mereka segera pergi meninggalkan studio itu, dengan Gama yang tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Aletta sampai ia menuju parkiran.