184.

“Ini beneran gue pengen ketemu nyokap lo terus pengen sungkem, alias masakannya enak-enak terus anjir.” Haidan berujar sembari mengunyah makanannya yang penuh di dalam mulutnya.

“Ini kita kaga nyusahin kan, ya?” tanya Dion pada Melio.

Melio menggeleng, “emang sengaja bikin banyak.”

Nandra melihat Gama yang hanya diam dan memperhatikan mereka makan sembari berbincang. “Ga makan, Gam?” tanya Nandra pada Gama.

Gama tak menjawab pertanyaan Nandra.

“Masakan nyokap lo, atau …”

“masakan Aletta?” Gama melontarkan pertanyaan itu membuat Melio, Nandra, Haidan dan Dion langsung tertuju padanya.

“Maksud lo?”

“Ya masakan nyokap gue lah.”

Gama menyunggingkan dengan tipis sudut bibirnya, menunjukkan senyum tak sukanya.

“Itu tempat makan punya Aletta, dia juga abis masakin gue, gue juga hafal masakan Aletta. Lagian dia juga bilang kalo dia suka masakin lo,” ujar Gama.

Padahal, hari ini Aletta tidak memberikan makanan kepada Gama. Gama hanya mengarang agar Melio merasa terciduk.

Seketika teman-temannya itu menghentikan aktivitas makannya. Mereka menatap Gama dan Melio dengan heran.

Tanpa basa-basi lagi, Gama beranjak pergi meninggalkan keempat temannya itu.