188.

“Ayo cepetan masuk.” Ujar Nandra sembari menarik lengan Kia.

Kia melepaskan tangan Nandra yang menarik tangannya. “Dra, sebelum aku masuk, jelasin dulu. Kenapa aku harus ke sini? Evan mabuk juga bukan urusan aku.”

Bukan apa-apa, Kia takut harus mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Evan karena dirinya telah ikut campur urusannya.

“Udah nanti lo tau sendiri, cepetan masuk.” Nandra langsung kembali menarik tangan Kia.

Kia langsung masuk dan terdapatlah Evan yang sedang terkapar lemas di lantai.

Kia segera menghampiri Evan, kemudian menepuk pipi laki-laki itu dengan pelan.

Evan perlahan membuka matanya, netranya itu menangkap sosok Kia.

Evan tersenyum, kemudian menggenggam tangan Kia yang menangkup wajahnya.

“Katanya lo mau ke rumah gue?” Tanya Evan tiba-tiba yang masih dengan keadaan setengah sadar.

Kia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Evan, sehingga ia tak menjawabnya.

“Katanya mau ketemu mama,” ujar Evan sembari cengar-cengir tidak keruan.

“Maksud kamu apa sih? Aku ngga ngerti.”

Evan tertawa, tertawa dengan sangat lepas. Kemudian beberapa detik selanjutnya, ia menangis.

Nandra yang sedang memperhatikannya pun ikut bingung. Kenapa temannya ini sangat aneh saat mabuk?

“Lo emang kalo mabok suka bipolar ya, Pan?” tanya Nandra.

Tangisan Evan semakin keras, membuat Kia semakin bingung.

Posisi kepala Evan yang tertidur di paha Kia, membuatnya mudah untuk memeluk pinggang perempuan itu.

Dengan kasar, Kia mencoba melepaskan tangan Evan yang memeluk pinggangnya. “Epan, lepasin. Kamu bau alkohol.”

Evan tidak peduli dengan ucapan Kia.

“Ki, lo kenapa jahat banget?”

Lagi-lagi Kia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki ini.

“Kenapa lo ninggalin gue?”

“Lo ke mana aja selama tujuh tahun?”

Entah mengapa ketika mendengar pertanyaan itu, perasaan hati Kia merasa aneh. Seperti ada rasa bersalah.

“Jangan tinggalin gue ....” Lirih Evan.

“Jangan terima cincin dari Fajar, gue ga mau lo tunangan sama dia.”

Nandra meledakkan tawanya. “HAHAHA, bau-bau bulol nih.”

Kia menghembuskan napasnya, kini ia mengerti apa yang sedang terjadi.

“Siapa yang mau tunangan? Udah deh kamu tuh ngelantur.”

“Nakia, please ....”

“Iya, ngga,” ujar Kia pelan.

Evan semakin menguatkan pelukannya dengan tangisnya yang juga semakin mengeras seperti anak kecil.

“Jangan ke mana-mana ....”

“Kia, jangan ke mana-mana. Aku takut ....”

Mendengar itu, hatinya sakit. Cara bicara, nada, dan lirihannya sama persis ketika dahulu laki-laki ini memintanya untuk tidak pergi ke mana-mana karena ia sangat takut dengan Aldo dan teman-temannya yang selalu merundungnya.

“Ki, takut,”

“Jangan tinggalin aku lagi, aku takut ....”

Kia menepuk pelan punggung Evan, berusaha menenangkan ketika laki-laki itu mengeraskan tangisannya.

“Iya, ini aku di sini,”

“Aku ngga ke mana-mana,” ujar Kia lembut.

“Hadeh, kan malah bucin. Udah lah gue mau beresin ini dulu. Nanti kalo rewelnya udah mendingan, lo hubungin si fajar dah, suruh jemput,” ujar Nandra.

Kia mengangguk, “Maaf ya Ndra, jadi ngerepotin.”

“Santai aja, udah sering ngerepotin dia mah.”

Nandra pun beranjak, membereskan beberapa gelas dan makanan yang cukup berserakan di mejanya.

“Epan ....”

“Udah gede ya kamu,”

“Sekarang kamu kok nakal?”

Tangan kecil milik Kia terus tergerak untuk mengusap-usap pelan punggung besar laki-laki itu. Laki-laki yang dulu hanya seorang laki-laki lemah, yang bahkan untuk melawan seseorang yang menjahatinya pun tak berani.

“Aku ngga nyangka kamu bisa sampe kaya gini.” Kia meneteskan air matanya.

“Kia,” lirih Evan memanggil Kia dalam dekapannya.

“Apa?”

“Aku sayang kamu,”

“Jangan pergi,”

“Jangan sama Fajar.”

Kia tersontak dengan perkataan Evan. Beberapa detik kemudian, Evan langsung beranjak dan pergi ke arah wastafel yang ada di dapur.

Evan memuntahkan isi perutnya di wastafel itu.

Kia langsung berlari menghampiri Evan, ia kembali mengusap-usap dan menepuk-nepuk pelan punggung laki-laki itu.

“Kamu minum berapa botol sampe kaya gini?” tanya Kia yang tak mendapat jawaban dari Evan.

Evan langsung ambruk, untung saja dengan cepat Kia langsung menangkap kedua bahunya.