196.

Gama membawa Aletta ke sebuah apartemen. Mereka memasuki salah satu unitnya.

Aletta sedikit bingung, sebenarnya ini apartemen milik siapa? Gadis itu sudah menanyakannya saat dalam perjalanan, tetapi Gama tak menjawabnya.

Gama berjalan mendahului Aletta dan mendudukkan dirinya pada sebuah sofa.

“Sini,” ujar Gama.

Aletta menurut dan duduk di samping Gama.

Gama menjelaskan kepada Aletta, “ini apartemen punya papa. Papa kasih satu unit buat aku.”

“Tadinya unit yang ini mau aku sewain, tapi kalo aku lagi pusing nanti ngga ada tempat buat ngelampiasinnya.”

Aletta hanya diam tak merespon Gama. Tak lama ada seekor kucing yang berjalan di hadapannya, membuat Aletta menghampiri kucing itu dan langsung menggendongnya.

Aletta terlihat sangat gemas dengan kucing itu hingga sepuluh menit berlalu Gama hanya memperhatikan Aletta yang asik bermain sendiri dengan memberikan sebuah makanan kepada kucing itu.

Aletta kembali duduk di samping Gama dengan kucingnya yang ia pangku.

Gama langsung mengambil kucing itu dan menaruhnya di bawah.

“Ih, aku mau foto kucingnya,” ujar Aletta sembari hendak kembali mengambil kucing tersebut.

Namun, dengan cepat Gama menarik kembali Aletta, membuat perempuan itu sedikit kesal.

Aletta dengan moodnya yang sedang tidak bagus itu menarik napasnya dalam-dalam, terlihat hendak mengeluarkan kekesalannya pada Gama.

Namun, ketika Aletta hendak mengeluarkan suaranya, Gama langsung mendekatkan wajahnya pada Aletta membuat Aletta tak jadi bersuara dan segera menjauhkan wajahnya dari Gama.

Aletta terkejut, hendak menggeser tubuhnya karena jarak wajah mereka yang sangat dekat, tetapi Gama dengan cepat menahan tangannya.

Aletta sedikit tidak nyaman, karena jarak diantara mereka yang benar-benar sangat dekat. Bahkan hembusan napasnya pun saling terasa.

Tak bisa dipungkiri, kini jantung Aletta berdegup begitu kencang. Ia bahkan khawatir jika Gama bisa mendengar detak jantungnya.

Wajah Aletta mulai memerah ketika Gama semakin mendekatkan wajahnya.

Aletta memundurkan kepalanya, “mau ngapain?”

Gama tersenyum, “for the K word,”

“can i?”