199.
ㅡ
Aletta keluar dari kamar milik Gama. Gama yang sedang duduk sembari menonton televisi di ruang depan pun pandangannya langsung teralihkan pada Aletta.
“Sini dulu,” ujar Gama sambil menepuk dua kali sofa di sampingnya.
Aletta duduk di samping Gama, tetapi dengan jarak yang cukup jauh.
“Mau bikin darlung?” tanya Gama yang dibalas anggukan oleh Aletta.
“Kaget ya tadi?”
Aletta terdiam.
“Maaf.”
Gadis itu kini menunduk.
“Kamu punya trauma dicium cowok?” tanya Gama dengan polosnya.
Aletta langsung menatap Gama, “ngga, gama. Tadi tuh kamu tiba-tiba kaya gitu, terus deketin muka aku, ya aku takut lah.”
“Berarti kalo aku bilang dulu mau cium kamu, boleh?”
Aletta menarik napasnya dalam-dalam, tak habis pikir dengan laki-lakinya ini. Ingin sekali menciumnya atau bagaimana?
“Ga, nanti dimarahin bunda.”
Gama tertawa kecil mendengar jawaban dari gadisnya itu. Sangat polos, padahal Gama hanya bercanda.
“Mau pulang,” ujar Aletta tiba-tiba seperti anak kecil yang merengek meminta pulang.
“Ujannya gede banget, Al.”
“Udah bilang belum ke bunda mau nginep?” tanya Gama.
“Bunda lagi ngga di rumah.”
“Papa kamu ngga bakal ke sini, kan?” tanya Aletta.
Gama menggeleng, “Papa ngga pernah mampir ke sini lagi.”
“Emang papa kamu ke mana?”
Gama tersenyum tipis mendengar pertanyaan Aletta, membuat matanya pun ikut membentuk bulan sabit.
“Ada,”
“sama istri barunya.”
Gadis yang ada di hadapannya itu sedikit terkejut dan ada rasa tidak enak ketika mendengar jawaban dari lawan biacaranya.
“Maaf ….”
Gama tersenyum kemudian memupuk pucuk kepala milik Aletta.
“Jadi mau buat darlung?”
Aletta menggeleng, “mie aja deh.”
“Sambil nonton?”
“About time!”