204.
ㅡ
“Kak, mau ke mana? Kok kita ke arah sini?” Tanya Kia pada Fajar yang sedang fokus menyetir.
“Nanti kamu tau sendiri. Bentar lagi nyampe kok,” jawab Fajar.
Kia hanya mengiyakan, ketika Fajar entah akan melajukan mobilnya ke mana.
Tak sampai sepuluh menit, kini Fajar sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang sebuah rumah yang cukup besar.
“Ini bukannya rumah kamu? Kamu kenapa bawa aku ke sini?” tanya Kia yang mulai panik.
“Ketemu mamah,” jawab Fajar santai.
“Kak, kan aku udah bilang aku belum siㅡ”
“Ssttt ....” ucapan Kia terpotong.
“Cuma ada mamah kok, ayah masih di kantor.”
“Udah sore juga kak, aku belum izin ke ayah kalo pulang telat.”
“Kan bisa telfon,” ujar Fajar.
Fajar turun dari mobilnya, ia segera menuntun Kia masuk ke dalam rumahnya yang besar itu.
Ternyata mamahnya Fajar sudah berdiri tepat di depan pintu, seakan sedang menunggu kedatangannya.
“Eh, akhirnya udah dateng,” ujar mamahnya Fajar dengan senyumnya yang lebar, menandakan bahwa beliau senang dengan kedatangan Fajar yang membawa Kia.
Fajar dan Kia segera mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Panggil aja tante Gina, tapi kalo mau manggil mamah juga boleh.”
Kia tersenyum, “Iya, tante. Nama aku Nakia, boleh dipanggil Kiki atau Kia,” balas Kia yang tak lupa selalu diiringi dengan senyuman.
Tante Gina terus memperhatikan Kia, bahkan ia sampai sedikit menyipitkan matanya.
“Kia?”
“Kok kaya ngga asing, ya?” tanya tante Gina.
”Mampus ki, mampus,” gerutu Kia dalam hati.
Ini yang Kia takutkan. Mengingat bahwa tante Gina adalah mamahnya Evan sekaligus mamahnya Fajar juga. Kia takut jika tante Gina mengingat dirinya adalah teman kecil Evan ketika masih di Bandung, pasti Fajar akan kaget.
“Kamu teh ....”
“MAH,”
“MAMAH!”
Belum sempat tante Gina menyelesaikan kalimatnya, terdengar teriakan yang sangat keras dari dalam rumahnya.
“Ini si adek gangguin Epan main game terus!” Teriaknya lagi.
Ternyata teriakan itu adalah teriakan Evan.
“A epan, coba sini dulu,” balas tante Gina dengan volume suara yang cukup keras, namun tak sekeras teriakan Evan tadi.
Evan menurut, keluarlah Evan dari dalam rumah dengan penampilan yang hanya memakai kaus hitam polos dan kolor putih.
Evan terkejut ketika melihat Kia.
“Ini temen aa kan?” tanya Tante Gina pada Evan.
Evan tak menjawab, ia mematung.
“Aa, ih!” Tante Gina menepuk lengan Evan pelan, membuat Evan mengerjapkan pandangannya.
“Ini teh temen aa yang dulu di Bandung bukan sih? Neng Kia itu yang anaknya pak Jenan?”
“Iya, kan? Kamu teh neng Kia anaknya pak Jenan, temennya Epan pas dulu masih di Bandung?” tanya tante Gina pada Kia.
“Iya, tante ....” Kia tersenyum kaku.
“Tuh, kan. Bener!”
“Dari awal juga diliat-liat teh asa mirip saha kitu nya, eh ternyata neng Kia,” ujar tante Gina dengan sangat antusias.
Fajar mengernyitkan dahinya bingung, ini semua maksudnya apa?
“Neng Kia gimana kabarnya? Makin geulis aja ih,” tanya tante Gina.
Tante Gina terlihat sangat senang ketika tau bahwa kekasih Fajar adalah Kia, teman dekat Evan saat masih di Bandung dulu.
“Baik, tante. Tante gimana kabarnya?”
“Baik juga. Sini atuh masuk, kita ngobrol dulu.” Tante Gina menggandeng tangan Kia dan menuntunnya masuk ke dalam rumahnya.
Fajar yang masih bingung dan Evan yang masih mematung, membuat kedua laki-laki itu saling bertatapan. Sampai akhirnya Evan menatap Fajar dengan sinis, kemudian langsung mendahului masuk ke dalam rumahnya.