210.
ㅡ
“Ngapain di sini?” tanya Gama ketika ia menghampiri Aletta di depan studio.
“Mau minta maaf,”
“ke kak Jordhan.”
Gama mengerutkan sedikit alisnya, meminta penjelasan maksud dari jawaban Aletta.
“Kamu ga sopan banget kemarin bales DMnya.”
“Kamu tuh kaya anak kecil, Kak Jordhan cuma bercanda ke aku. Sampe segitunya? Sampe ga mau siaran lagi?” Aleta mulai mengomel.
“Dari siaran tuh ngebantu buat kuliah kamu, Gama.”
Gama hanya mendengarkan ocehan-ocehan Aletta, membiarkan gadis cantiknya mengeluarkan segala kekesalannya.
“Terus bisa ga sih, kalo ada apa-apa tuh cerita ke aku. Walaupun aku ngga seratus persen bisa ngebantu kamu, tapi kalo kamu cerita, kamu ngeluarin apa yang kamu rasain ke aku, seenggaknya bisa ….”
Tiba-tiba saja Gama langsung membawa Aletta ke dalam pelukannya, membuat Aletta tak lagi melanjutkan kalimatnya.
“I love you.” Ucap Gama.
Entah Aletta yang bodoh atau bagaimana, hanya dengan satu aksi yang Gama lakukan, mampu membuat Aletta menghentikan ocehannya.
Jangan ditanya, sebenarnya Aletta lelah, sangat lelah. Tetapi ajaibnya, Gama selalu bisa membuatnya berkali-kali seolah tidak bisa berkata-kata lagi, seolah membuatnya jatuh lagi, jatuh sejatuh-jatuhnya pada seorang Gamalandra. Laki-laki yang tak pernah membuat pandangannya teralihkan.