225.
ㅡ
Sesampainya di taman yang mereka tuju, Aletta segera menghampiri kursi yang kosong. Gama hanya mengikuti langkah Aletta dari belakang.
Hari ini suasana taman cukup ramai. Entah kenapa, padahal hari ini bukan hari weekend.
“Al.”
Aletta menengok ke arah Gama dan terkejut lah ia karena Gama yang tiba-tiba menyodorkan sebuah cake yang ukurannya tidak terlalu besar, dengan sebuah lilin di tengahnya.
“Kamu bawa cake? Kok aku ngga liat?” tanya Aletta.
“Orang kamu jalan cepet banget, ngga sadar kan aku di belakang bawa cake.”
Aletta hanya terkekeh dan kemudian Gama menyuruh Aletta meniup lilinnya.
Sebelum meniup lilinnya, Aletta menutup matanya untuk membuat permohonan terlebih dahulu.
“Semoga kalo ada apa-apa, Gama mau cerita ke aku, Amin.” Aletta kemudian meniup lilin yang ada di cake tersebut.
Mendengar permohonan gadisnya itu, Gama hanya terkekeh pelan, kemudian menaruh cakenya di sampingnya.
“Tadi kamu sama bunda lucu,” ujar Gama tiba-tiba.
“Sayang banget ya, sama bunda?”
Aletta tersenyum, “iya, tapi lebih sayang mami.”
“Mami?” Bisa terlihat raut wajah Gama yang heran dengan jawaban gadisnya.
“Bunda itu bundanya Jea, bukan bundanya aku.”
“Maksudnya?”
“Bunda itu tante aku, adiknya mami.”
Gama hanya mendengarkan pengakuan Aletta, tak menjawab sedikit pun.
“Dari awal aku kuliah mami pergi ke Amsterdam, jadi aku dititipin ke bundanya Jea.”
Gama masih terdiam, namun tetap mendengarkan Aletta sembari menatapnya dengan lekat.
“Kamu udah lama tau Jay adik aku?” tanya Gama tiba-tiba.
Aletta mengangguk, “dia yang bilang sendiri, terus aku pura-pura belum tau ke kamu.”
“Aku boleh gantian nanya nggak?” tanya Aletta pada Gama.
“Apa?”
“Bukannya papa kamu suka gak ngebolehin kamu keluar sampe malem, ya? Tapi sekarang papa kamu udah ngga di rumah?”
“Dulu iya,” Gama mulai menjawab.
“Suka ngelarang ini itu, aku juga sempet bilang kan ke kamu kalo aku suka berantem sama papa gara-gara sering nginep di tempat Haidan?”
Aletta mengangguk, ia ingat bahwa satu-satunya hal yang pernah diceritakan oleh Gama adalah dia yang selalu bertengkar dengan papanya.
“Tapi bulan kemarin papa mutusin buat sama istri barunya.”
Aletta dengan serius mendengarkan Gama, karena ini adalah momen yang sangat langka dan yang pertama kalinya Gama menceritakan sesuatu kepadanya.
“Aku ngga bisa maksa, aku juga ngga mau serumah sama dia terus.”
“Apartemen itu juga sebenernya punya papa, tapi minggu lalu udah ditanda tangan sama mama, sekarang udah atas nama mama. Papa minta unitnya buat disewa, terus hasil uangnya buat mama, aku, sama Jay, biar mama ngga minta-minta uang ke papa lagi.”
Tidak disangka bukan, Gama merangkai kalimat-kalimat itu? Apa permohonannya ketika make a wish tadi dikabulkan? Secepat itu?