234.

Evan baru saja pulang dari rumah Bundanya Kia. Ia kini sedang duduk di kursi yang ada di depan rumahnya.

Laki-laki itu termenung, sedikit ada rasa bersalah karena tidak membalas pesan dari Kia yang meminta bantuan kepadanya. Andai saja Kia mengirimkan pesannya sebelum Evan pergi mengantar Silla ke makam ibunya, pasti laki-laki itu akan lebih memilih pergi ke rumah Bundanya Kia.

Dalam lamunannya, tiba-tiba saja Jio datang menghampiri dan duduk di sampingnya.

“A, mau ngga?” tanya Jio sembari menyodorkan satu buah kiko kepada Evan.

Evan tersenyum, “buat Aa?”

Jio mengangguk, kemudian Evan meraih kiko yang disodorkannya.

“Makasih ya,” ucap Evan.

Adiknya itu menatapnya kala Evan hendak menggunting bagian ujung kikonya.

“A, tapi,”

Evan menatap ke arah Jio.

“Kikonya cuma satu, kalo dimakan aa nanti ngga ada buat Jionya,” ujar Jio yang terus menatap kiko yang ada di tangan Evan.

Evan tersenyum ketika mendengar ucapan adiknya itu.

“Potong jadi dua aja, ya? Nanti aa beliin lagi.”

Jio mengangguk, kemudian Evan menggunting menjadi dua kiko yang masih beku itu.

Evan dan Jio memakan kikonya bersama. Kemudian tiba-tiba Jio bertanya, “Aa kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Tadi Jio liatin dari jendela, aa kaya lagi ngelamun.”

“Ngga apa-apa. Cuma lagi banyak tugas sekolah, jadi capek,” ucap Evan berbohong pada adiknya.

Evan memupuk pelan puncak kepalanya adiknya yang masih berusia enam tahun itu. Ia baru sadar, ternyata adiknya sangat lucu. Selama ini, ia selalu tidak peduli kepada adiknya, bahkan ia pernah menolak dan merajuk kepada mamahnya ketika tau bahwa ia akan segera mempunyai adik.