237.
ㅡ
Saat alarm ponselnya berdering, Kia terbangun dengan posisi tidur yang sembari duduk di samping sebuah brankar rumah sakit. Tangan kecilnya itu sedang menggenggam erat tangan milik bundanya yang sedang tertidur pulas di brankar tersebut.
Kia menengok ke arah belakang, ternyata ada Fajar yang sedang tertidur pulas di sofa yang ada di ruangan tersebut. Terlihat juga beberapa lembar kertas yang mungkin berisi tugas-tugas kuliahnya dan sebuah laptop yang masih menyala.
Kia menghampiri Fajar, “kak,” ujarnya pelan.
“Kak, bangun ....”
Fajar membuka perlahan matanya ketika mendengar suara milik perempuannya itu. Ia mencoba memfokuskan pandangannya.
“Kamu bangun jam berapa?” tanya Fajar sembari mengusap kedua matanya.
“Baru,” jawab Kia.
“Kamu semaleman di sini? Kenapa ngga pulang?” Tanya Kia.
“Nemenin kamu.”
“Sambil ngerjain tugas, ya? Baru tidur juga, kan? Laptopnya masih hidup.”
Fajar tersenyum, kemudian memupuk pelan puncak kepala kekasihnya itu.
“Kamu udah izin ke ayah sama mamah kamu?” tanya Kia lagi.
Fajar mengangguk sebagai jawaban.
“Bunda semalem bangun ngga?” Tanya Fajar.
“Bangun sebentar,” jawab Kia.
“Pas kamu izin mau pulang, kirain ngga bakal ke sini lagi. Jadi kamu ke sini lagi? Jam berapa?” Tanya Kia lagi.
Lagi-lagi Fajar tersenyum karena merasa gemas. Cerewet sekali gadisnya ini.
“Sekitar jam sepuluh? Pokoknya kamu udah tidur.”
Kia mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
“Mau sarapan apa?” tanya Fajar.
“Kamu pulang aja. Ngampus pagi, kan?”
Fajar menggeleng, “Hari ini ngga ada jadwal.”
“Oh, ya? Perasaan hari rabu kamu ada kelas deh?” Kia tak percaya.
“Ngga, Ki. Mau sarapan apa? Nanti aku keluar.”
“Nasi uduk di bawah ada ngga, ya?”
“Ada, mau?”
Kia mengangguk.
“Ya udah, bentar ya.”
Fajar segera beranjak untuk pergi membeli sarapan.
Kia menatap punggung besar kekasihnya yang beranjak dari duduknya.
Jujur saja, Kia tidak berani jika harus sendiri untuk menemani bundanya di ruangan ini. Ia sangat bersyukur ada Fajar yang setiap saat selalu ada ketika ia membutuhkannya.