237.

Aletta menuruti permintaan Jay untuk tidak mengganggu Gama. Padahal hatinya sangat tidak tenang. Selama lima hari ini, Aletta tidak bisa tidur nyenyak, bahkan gadis itu menangis karena khawatir.

Bagaimana bisa ia disuruh untuk tidak peduli pada Gama, ketika laki-lakinya itu kehilangan sosok ibunya?

Sampai dua hari kemudian, Aletta selintas melihat Gama yang berjalan menuju studio di kampusnya.

Aletta membututinya dari belakang. Laki-laki itu sudah kembali masuk kuliah? Bagaimana keadaannya? Pasti masih tidak baik-baik saja, karena ia sampai tidak menghubunginya seolah hilang begitu saja selama lima hari ke belakang.

Benar saja, Gama masuk ke dalam studio itu dan langsung disusul oleh Aletta.

Aletta membuka pintu studio dan terlihat jelas Gama sedang memasukkan laptop ke dalam tasnya.

Padahal suara pintu yang terbuka cukup keras, tetapi sama sekali tidak mengalihkan perhatian Gama.

“Gama ….”

Gama tidak menengok, masih dengan membereskan tasnya.

Aletta menghampiri laki-laki itu dan menyebut namanya sekali lagi.

Mendengar namanya disebut, Gama menghembuskan napasnya dalam-dalam sebelum ia membalikkan badannya, menghadap gadis yang ada di belakangnya.

Terlihat jelas mata laki-laki itu yang sedikit membengkak dan kantung mata yang sedikit tebal. Terlihat seperti karena tidak tidur berhari-hari.

Aletta langsung memeluk Gama dan mengusap pelan punggung laki-laki itu, berniat menyalurkan kekuatan.

Namun, Gama tidak membalas pelukan Aletta, ia malah melepaskan pelukannya.

“Kenapa ngga cerita, sih?” tanya Aletta dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tangis.

“Kenapa ngga bilang?”

“Kenapa diem aja?”

“Aku sampe ngga bisa tidur, aku ngga tenang, aku—“

“Al,” Gama memutus ucapan Aletta.

“Ngga ada yang perlu diceritain,” ujar Gama.

“Kamu tau kenapa aku ngga pernah mau cerita ke kamu?”

“Nggak ada yang perlu diceritain, Al,” ujar Gama.

“Nggak ada yang perlu diceritain, nggak ada hal penting yang harus aku ceritain ke kamu, semua cerita aku itu nggak penting, Al, semua tentang aku itu sampah!” Suara Gama itu sedikit meninggi, tetapi membuat Aletta cukup terkejut.

Gama kembali bersuara, “kamu mau aku bilang mama udah nggak ada, mama udah meninggal, terus kamu seneng karena aku udah mau cerita. Iya?”

Aletta menatap Gama dengan mata yang sangat berkaca-kaca, dengan kaki yang terasa tidak mampu lagi untuk berdiri dan dengan hati yang sudah tidak karuan rasanya.

Padahal, bukan itu maksudnya.

Jangan ditanya, tentu sangat terkejut ketika harus mendengar nada yang cukup tinggi dari laki-laki yang kini ada di hadapannya.

Aletta ingin membalas ucapan Gama tapi sumpah beribu sumpah, ia tidak mampu. Rasanya, tangisnya itu sudah ingin meledak.

Gama kemudian mengambil tasnya dan segera pergi meninggalkan Aletta.

Dan, ya ….

Tanpa permisi, air dari mata indah milik Aletta pun terjatuh.