244.

Jea, sepupu Aletta yang usianya tidak jauh beda dengan usia Aletta itu kini sedang bergegas dengan langkah yang sangat cepat.

Langkah kakinya menuntunnya ke arah studio kampus yang biasa menjadi tempat siaran kekasih sepupunya itu.

Ketika tiba di sana, Jea langsung membuka pintu studio membuat perhatian orang-orang yang ada di dalamnya teralihkan padanya.

Kecuali Gama.

Jea menghampiri Gama dan memanggil namanya dengan penuh penekanan.

“Gama.”

“Gama.”

Dua kali namanya disebut, tetapi tidak ada respon dari laki-laki itu dan hanya terus fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.

“GAMA.”

Kini ucapan Jea dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat Gama pun langsung meresponnya.

“Apa?”

Plak!

Tiba-tiba saja satu tamparan yang sangat keras dari tangan Jea mendarat tepat pada pipi kanan milik Gama.

Beberapa orang di sekitarnya melihat aksi itu dan tentunya sangat terkejut.

Gama hanya terdiam walaupun sebenarnya bingung, kenapa gadis ini tiba-tiba datang dan menamparnya?

“Aletta lo apain?”

“Lo brengsek banget.”

“DIA SAMPE NANGIS BERHARI-HARI, GA BISA TIDUR BERHARI-HARI GARA-GARA LO!” Ujar Jea dengan nada yang tinggi.

“Dia cuma khawatir, dia cuma mau nenangin lo. Tapi lo malah bentak-bentak dia, bilang kalo dia bakal seneng kalo lo cerita ibu lo ngga ada. Lo waras?”

Ocehan-ocehan itu terus keluar dari mulut Jea.

“Harusnya lo bersyukur, karena bakal lebih aneh kalo Aletta malah diem aja atau bahkan sampe ngga peduli kalo tau ibu lo ngga ada.”

Seolah ucapan-ucapan gadis yang ada di hadapannya ini hanya sebuah angin yang berlalu. Tak ada tanggapan sama sekali dari Gama. Laki-laki itu malah mengambil tasnya dan langsung pergi begitu saja.