250.
ㅡ
Sepasang kekasih itu saling berhadapan dan hanya saling bertatapan tanpa salah satunya mengalah untuk membuka suara.
Siapa lagi kalau bukan Gama dan Aletta.
Entah mengapa suasananya terasa sedikit canggung.
Namun, si gadis yang mengalah lebih dahulu. Membuka percakapan diantaranya.
“Kamu ngerokok?” tanya Aletta.
“Ngga.”
“Tapi kamu bau rokok.”
Ada jeda beberapa detik sebelum Gama menjawabnya. “Iya.”
“maaf ya,”
“kemarin kelepasan,” ujar Gama dengan polosnya.
“Kamu ngga tidur-tidur, ya?” Aletta malah bertanya tanpa memberikan respon pada permintaan maaf laki-laki itu.
“Mata kamu agak bengkak, nangis semaleman, ya?”
“Tadi pagi sarapan—“
“Al.” Gama memotong ucapan Aletta.
“Apa?”
Tak ada jawaban lagi dari Gama. Hanya tatapan yang sangat sendu dari mata yang terlihat merah dan sedikit bengkak, seperti tidak tidur berhari-hari dan menangis setiap malam.
“Kamu capek ngga sih?” Kini Aletta yang bersuara.
“Aku capek.”
“Udah dua tahun, Gama ….”
Bisa terlihat jelas, kini mata Aletta mulai berkaca-kaca.
“Aku sekarang serius.”
“Aku ngga kuat ….”
“Jangan kasih alasan apa-apa lagi.”
Dan, Aletta mengucap sebuah final.
“Aku nyerah deh.”