277.

Tangan kanan Kia bertumpu pada meja kerjanya, sedangkan tangan kirinya sekilas menyentuh keningnya. Kepalanya seketika terasa pening dan lututnya melemas.

Kia hampir saja terjatuh, namun dengan cepat, Evan menahannya. Entah sejak kapan Evan berada di ruangannya.

Kia segera menepis dengan kasar tangan Evan yang memegang bahunya.

“Lo kenapa?”

“Muka lo pucet, mata lo juga bengkak. Lo sakit?”

Kia tak menjawab, ia hendak pergi namun lengannya segera ditahan oleh Evan.

“Lo salah paham,”

“Dengerin gue dulu, gue mau jelasin semuanya.”

“Apa yang mau dijelasin? Ngga ada yang perlu dijelasin,” ujar Kia.

“Lo ke mana selama seminggu ini? Lo ngeblock semuanya, bahkan sampe ayah sama bunda lo pun ngga ada yang ngeladenin chat gue.”

Kia muak, ia hendak pergi namun lagi-lagi lengannya ditahan oleh laki-laki ini.

“Gue kira lo ngga bakal dateng,”

“Gue kira lo nerima Fajar dan lo ngga ngeladenin permintaan gue yang minta lo buat dateng ke lokasi yang gue kirim waktu itu.”

Kia menciptakan senyum mirisnya.

“Kamu kira aku ngga bakal dateng?”

“Jadi kalo kamu tau aku bakal dateng, kamu bakal prepare semuanya biar ngga keciduk, gitu?”

“Bukan gitu,” Evan mengelak.

Kia terkekeh. “Mimpi apa ya aku, sampe rela nyakitin Fajar demi laki-laki brengsek.”

“Dia yang tiba-tiba dateng ke apart aku, dia yang tiba-tiba ngelakuin itu. DIA, DIA YANG NGELAKUIN ITU SEMUANYA. BUKAN AKU, NAKIA!”

Suara Evan meninggi, membentak gadis berwajah pucat yang ada di hadapannya.

Sebentar,

”Apart aku?”

Kia terkejut mendengar bentakan dari Evan, matanya mulai memerah. Ia menahan hembusan napasnya dan mencoba menetralkan napasnya. Karena jika ia tidak bernapas dengan perlahan, air matanya pasti sudah terjatuh.

“Sejak kapan kamu tinggal di apartemen?” tanya Kia.

Evan tak menjawab, ia mematung.

“Kamu bilang dia yang ngelakuin itu semua, bukan kamu? Iya?”

“Tapi kamu mau,”

“Aku liat pake mata kepala aku sendiri, kamu ngga keliatan terpaksa.”

Kia tersenyum, “ya, masa sih kepaksa? Atau emang dasarnya nafsu kamu aja yang gede?”

Kia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Evan. Namun saat sampai di ambang pintu, Kia terjatuh di lantai.

Evan menghampiri Kia, laki-laki itu mencoba menepuk pelan pipi pucat milik Kia. Kia tak sadarkan diri dan Evan segera mengangkatnya, hendak membawanya ke mobil untuk pergi ke rumah sakit.