286.
ㅡ
Kosong, entah mengapa hatinya terasa kosong. Satu minggu terakhir ini rasanya benar-benar hampa.
Gadis berambut pendek itu menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Ya, dua hari lalu Nakia baru saja memotong rambutnya. Entah mengapa akhir-akhir ini rambutnya sangat rontok, sehingga ia memutuskan untuk memotong rambut panjangnya itu.
Sebenarnya sudah hampir dua puluh menit ia hanya berdiri dan menatap gedung-gedung tinggi di rooftop kantornya ini, tetapi ia tidak juga memutuskan untuk pergi.
Hingga pada akhirnya, Evan tiba-tiba datang dan juga mulai menatap gedung-gedung tinggi itu mengikuti arah mata Kia.
Kia sadar akan kedatangan Evan, namun ia tak menggubrisnya. Gadis itu lebih memilih memejamkan matanya ketika angin menghembus rambutnya. Merasakan sensasi luka yang belum lama ini menggores hatinya.
Evan menatap Kia, menatapnya dengan tatapan sangat dalam, menatapnya dengan tatapan yang sangat kagum dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Laki-laki itu mengeluarkan satu bungkus rokok dan korek gas dari sakunya. Kemudian ia mulai menyalakan rokoknya.
Sadar dengan bau asap rokok yang mulai masuk ke indra penciumannya, Kia membuka matanya dan melihat ke arah Evan yang sedang menghisap rokoknya sembari tetap menatap gedung-gedung tinggi itu.
Namun demikian, Kia tak peduli. Ia hanya menggeser sedikit untuk menjauh dari Evan.
Karena sedari tadi tidak ada percakapan, akhirnya Evan membuka suaranya.
“Lo masih ngga percaya?” tanya Evan.
Tak tertarik dengan pertanyaan Evan, Kia memutuskan untuk pergi.
“Diem dulu.”
Ketika mendengar kata yang penuh penekanan dari Evan, langkah Kia terhenti.
“Gue harus kaya gimana lagi biar semua orang terutama lo percaya sama gue,” ujar Evan santai dengan posisi yang tak pernah berubah.
Laki-laki itu kembali menghisap rokoknya.
“Dulu, waktu pas pertama kali kenal Silla ...”
“pas abis pulang sekolah ketemu dia di jalan, dia lagi nangis-nangis sepulang dari acara hari ibu di sekolahnya,” ujar Evan memulai ceritanya.
“Gue kira kenapa, ternyata karena dia yang iri ngeliat temen-temennya yang bisa ngucapin selamat hari ibu secara langsung ke ibunya.”
Evan menghembuskan napasnya, mempersiapkan untuk melanjutkan ceritanya.
“Dari situ gue ngerasa kalo gue sama dia itu saling melengkapi. Gue yang ngga pernah ngerasain kasih sayang seorang ayah dan dia yang ngga pernah ngerasain kasih sayang seorang ibu.”
“Dan semenjak itu, gue deket sama dia. Gue kira dia ngga pernah naruh rasa lebih ke gue, entah itu salah gue yang ngga sadar kalo sikap gue yang berlebihan, atau emang dianya yang salah ngartiin sikap gue.”
“Epan,”
Evan menengok ketika namanya dipanggil oleh wanita yang paling ia cintai setelah ibunya.
“Buang rokoknya.”
Evan menurut, ia membuang batang rokok itu dan menginjaknya agar api kecilnya padam.
“Di luar dari semua cerita kamu itu, kamu udah salah,” ujar Kia.
“Aku ngga butuh dengerin cerita kamu, aku cuma mau kamu tanggung jawab atas apa yang udah kamu lakuin.”
Mendengar itu, Evan mendekatkan dirinya pada Kia, membuat Kia memundurkan langkahnya.
“Kalo itu bukan anak gue, gimana? Gue harus tetep tanggung jawab?”
Kia tak menjawab.
“Kia, lo tau ga sih kalo gue sayang sama lo?”
“Lo tau ngga, dari dulu gue sayang sama lo itu lebih dari temen?”
“Lo tau ngga, dari dulu gue suka liatin lo diem-diem dari jauh?”
Lagi, tak ada jawaban dari Kia.
“Jawab.”
“JAWAB, NAKIA. JAWAB!”
Suara Evan meninggi, sehingga menjadi suara bentakan, bahkan urat di lehernya sampai terlihat jelas.
“LO TAUNYA GUE ITU LAKI-LAKI YANG DULUNYA LEMAH, LAKI-LAKI PENAKUT DAN SEKARANG MALAH JADI LAKI-LAKI BRENGSEK, LAKI-LAKI JAHAT, LAKI-LAKI —“
“Epan ....”
Bentakan Evan terputus.
Kia meremat tangannya sendiri, berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.
Sadar bahwa mata lawan bicaranya yang mulai nampak berkaca-kaca, Evan menggerutu di dalam hatinya.
“Maaf ....” Ujar Evan.
“Maaf, aku ....”
Kia hendak pergi, namun sebelumnya ia menampar pipi kanan Evan terlebih dahulu.