;

Kia dan Evan kini sudah berada di depan sekolah Jio. Supir pribadi yang biasa mengantar jemput Jio sedang pulang kampung, jadilah Evan yang harus menjemput Jio. Ayahnya tidak menyuruh Fajar karena Fajar sedang sibuk di rumah sakit dan Ayahnya sendiri sedang menjaga mamahnya di rumah.

“Jio mana ya, Kok belum keliatan?” tanya Kia.

Terlihat baru beberapa murid yang keluar dari sekolah ini, sepertinya kelas Jio belum selesai.

Kia melihat tiga orang anak laki-laki yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Sangat tak diduga, tiba-tiba saja dua orang anak yang terlihat lebih memiliki tubuh yang besar menjatuhkan sebuah kotak makan milik satu anak tersebut yang ternyata berisi dua buah kiko.

“Masih jaman makan kaya ginian?” ucap salah satu dari dua anak yang menjatuhkan kotak itu.

“kampungan lo!” ucapnya lagi sembari mendorong anak si pemilik kotak makan itu sampai terjatuh.

Kia yang melihatnya pun langsung menghampiri mereka, namun tidak dengan Evan yang hanya melihatnya saja.

Kia langsung membantu berdiri anak laki-laki yang didorong itu.

“Ini kok temennya didorong sih?” tanya Kia yang sedikit geram.

“Biarin kak, anak kampung pantes digituin.”

“Eh, ngga boleh gitu. Kita semua itu sama aja, ngga boleh beda-bedain kaya gitu,” ujar Kia.

Namun dua anak yang nakal itu tidak mendengarkan Kia, mereka langsung pergi begitu saja.

Kia segera memasukkan kiko yang terjatuh di tanah ke dalam kotak makannya kembali. Kemudian ia menyerahkannya pada pemiliknya.

“Kamu ngga apa-apa?”

Anak itu mengangguk, “makasih ya, kak.”

Kia tersenyum kemudian memupuk pelan kepala anak laki-laki itu.

“Kamu udah sering digituin ya sama mereka?” tanya Kia.

Lagi-lagi anak itu mengangguk.

Kia menghembuskan napasnya, “kalo kamu dijahatin lagi kaya tadi, bilangin ke guru sama orang tua kamu, jangan takut.”

Anak laki-laki itu menunduk, “ngga berani ....”

“Eh, harus berani dong. Masa mau dijahatin terus? Harus berani, oke?”

Anak laki-laki itu mengangguk-ngangguk. Kia tersenyum dan kembali memupuk pelan kepala anak laki-laki itu.

Evan mematung melihatnya, kemudian ia langsung berlari menuju mobilnya.

Melihat itu, Kia langsung pamit kepada anak laki-laki tersebut dan segera menyusul Evan yang sudah masuk ke dalam mobil.

Kia terkejut ketika melihat Evan yang sudah berada di dalam mobil dengan tangan yang bergetar.

“Epan, kamu kenapa?”

Evan tak menjawab, ia malah menutup telinga dengan tangannya rapat-rapat.

Kia mencoba menggenggam telapak tangan Evan yang sedang gemetar hebat.

“Aku ... aku ...” ucap Evan terbata-bata.

“Aku ... takut, tadi ....”

Kia mengerutkan keningnya. Anak laki-laki yang tadi kia hampiri karena sedang dirundung oleh dua temannya itu, ternyata mirip dengan kejadian di masa lalu yang pernah Evan alami. Kia bingung dengan reaksi Evan setelah melihat kejadian tadi, Apakah anak ini memiliki trauma?

Tangan Evan masih bergetar, napasnya tidak teratur dan sedikit memburu.

Tak ada pilihan lain, Kia langsung menarik dan memeluk Evan. Ia pikir, ini akan sedikit menenangkannya.

Kia mengelus pelan punggung Evan, menepuknya pelan, memberinya kehangatan dan menyalurkan ketenangan. Namun, Kia mulai mendengar isakan Evan. Laki-laki itu menangis.

“Kia, aku takut ....” Evan semakin terisak.

“Hei, kamu nakutin apa?”

“Semuanya baik-baik aja, ngga ada yang perlu ditakutin,” ujar Kia yang masih mengusap-usap punggung besar milik Evan.

“Ki ... takut ....” Lagi-lagi kata takut yang Evan katakan.

“Jangan ke mana-mana, aku takut ....”

“Jangan nangis, ah. Nanti ada Jio, masa nangis? Ngga malu?”

Namun, isakan Evan semakin terdengar jelas.

Tanpa disadari, Kia ikut meneteskan air matanya, seakan turut merasakan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Evan.

Lirihan Evan yang memintanya untuk tidak meninggalkannya itu, benar-benar sama percis dengan lirihannya ketika laki-laki itu masih berusia dua belas tahun.