;
ㅡ
Evan melangkahkan kakinya ke sana dan kemari dengan resah sembari menunggu kabar dari dokter tentang kondisi mamahnya.
Laki-laki itu kemudian duduk dan menautkan jari-jarinya dengan resah. Berkali-kali membuang napas dengan gusar dan berkali-kali mengusap kepalanya dengan kasar.
Kia yang juga menemani Evan ikut merasakan keresahan. Wanita itu mencoba menggenggam tangan besar milik Evan yang terlihat sedikit bergetar, tetapi malah ditepisnya oleh sang pemilik dengan kasar. Padahal, niatnya ingin menyalurkan ketenangan.
Tak lama kemudian, Fajar dan Silla datang. Entah, apa yang bisa membuat mereka datang bersamaan.
Evan segera bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba, Evan melayangkan satu pukulan tepat di pipi milik Fajar.
“BRENGSEK LO!”
“UDAH GUE BILANGIN JAGAIN MAMAH DI RUMAH, JANGAN KE MANA-MANA!”
Kia langsuk menarik tangan Evan yang sedang mencengkeram kuat kerah baju Fajar.
Evan menepis tangan Kia, “Apa? Lo ngga terima cowok lo gue hajar? IYA?”
“Bukan gitu, Epan. Ini rumah sakit, masa kalian mau berantem?”
Evan tak mendengarkan perkataan Kia, ia lagi-lagi menghantam pipi Fajar dengan dua hantaman sekaligus. Namun, Fajar tidak balik memukul Evan. Fajar hanya pasrah pipinya dihantam berkali-kali oleh adiknya itu.
“Epan, udah!”
Kia dan Silla semakin panik, Kia kembali mencoba menarik tangan Evan dan berhasil menjauhkannya dari Fajar.
Kia menuntun Evan untuk kembali duduk.
Napas Evan sangat memburu. Kia ingin meraih tangan Evan untuk menenangkannya, namun lagi-lagi ditepisnya dengan kasar.
“Awas,” ujar Silla membuat Kia menggeserkan duduknya.
Kini, Silla yang duduk di samping Evan. Silla meraih pundak besar milik laki-laki itu, kemudian membawanya ke dalam dekapannya. Silla mengusap pelan punggung Evan.
Laki-laki itu mulai terisak, tangisnya terdengar sangat jelas.
“Gue takut,”
“Gue ga punya siapa-siapa lagi ...” ujar Evan dalam isakannya.
“La, gue takut ....”
Silla terus saja mengusap punggung Evan, memberinya ketenangan pada laki-laki yang sedang diambang kekhawatirannya.
“Sstt, udah ah,”
“Jangan nangis,”
“Semuanya bakal baik-baik aja,”
“Kita berdoa yang terbaik aja, ya?” ujar Silla lembut.
Kia hanya bisa menatap mereka. Ternyata ia tidak bisa menenangkan Evan, ternyata hanya Silla yang bisa melakukannya.
Kia menatap Fajar, “ke mobil dulu, yuk? Aku obatin pipinya,” ujar Silla pelan pada Fajar.