”Bukan salah kamu.”

Pria, si pemilik mata yang sangat teduh, sangat sayu, dan sangat banyak menyimpan suatu perasaan di dalamnya. Entah itu perasaan senang atau tak senang, hanya dirinya dan Tuhan yang tau.

Tubuh kecilnya menghampiri sebuah meja yang di atasnya terdapat satu tangkai bunga mawar merah, dan sebuah kue yang di tengahnya terdapat lilin berbentuk angka dua puluh delapan.

Pria tersebut bernama Tama.

Tama menatap kursi yang ada di hadapannya, tentunya tanpa ada seseorang yang menduduki kursi tersebut.

Laki-laki itu menatapnya dengan sangat dalam, caranya menatap kursi kosong itu sungguh penuh arti.

Tiba-tiba saja, Tama melirihkan sebuah nama perempuan yang mungkin sedari tadi memenuhi isi kepalanya, “Rena..”

Detik selanjutnya, ia menundukkan kepalanya, mengeluarkan sedikit tawanya sehingga membuat bahunya narik turun tak beraturan.

“Empat tahun..”

“Padahal Empat tahun yang lalu kamu udah janji sama aku, kamu bakal selalu nemenin aku.” Ucapnya yang sedikit terbata-bata.

Air matanya mulai keluar, perlahan membasahi pipinya yang tirus itu.

“Kamu udah janji bakalan terus nemenin aku, bahkan sampai masa usia kepala dua aku habis, kamu bakal terus nemenin aku.” Ujarnya.

Tama mengambil sebuah kotak merah berukuran kecil yang di dalamnya terdapat satu lembar foto.

Foto tersebut menggambarkan seorang gadis yang sangat cantik. Seorang gadis yang entah ia pun tidak tau kapan akan ia keluarkan jauh-jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Gadis yang ia sebut Rena itu sudah menguasai hatinya, lebih tepatnya menguasai satu ruangan di dalam hatinya yang sudah dari dulu sangat ia persiapkan untuk gadis yang akan ia cintai nanti.

Dan di masa depan, gadis yang berhasil menempati ruangan itu adalah Rena.

Tangannya meraih foto yang ada di dalam kotak tersebut. Ia menaruh foto tersebut di dadanya, memeluknya erat. Air matanya mengalir semakin deras. Ia terus melirihkan nama sang pujaan hatinya.

Hingga kemudian, terdengarlah suara wanita yang menyebut namanya, “Tama..” Ucap wanita itu sembari meraih pundak Tama dan mengusapnya pelan.

Entah sedari kapan wanita itu berada di sampingnya, tetapi yang pasti wanita itu paham apa yang baru saja terjadi.

Tama mendongakkan kepalanya, mendapati seorang wanita berbadan dua yang ada di sampingnya.

Tangisannya mulai mereda, entah karena ketenangan yang wanita itu berikan, atau karena dirinya yang tak mau wanita itu tau dengan keadaannya saat ini.

“Kangen Rena, ya?” Tanya wanita itu.

Tama yang tak sadar bahwa tangannya sedang memegang satu lembar foto, membuatnya sedikit terkejut dan segera membawa tangannya ke belakang tubuhnya untuk menyembunyikan foto tersebut.

“Ngga usah diumpetin, aku tau.” Ucap wanita itu dengan senyum tulusnya.

“Maaf..” Ucap Tama.

Lagi-lagi wanita itu menampilkan senyum tulusnya, sangat tulus.

“Udah empat tahun, ya.”

“Udah empat tahun sejak kepergian Rena.” Ujar wanita itu sembari mengusap pelan punggung milik Tama.

“Tama,”

“Hm?” Tama hanya bergumam karena masih sedikit menahan tangisnya.

“Kamu sayang sama Rena, kan?”

Pertanyaan wanita itu membuat Tama sedikit terkejut, ia tak menyangka wanita yang kini berstatus menjadi istrinya menanyakan hal itu, membuat Tama sedikit merasa bersalah.

“Kalo kamu sayang sama Rena, ikhlasin, ya?”

Ucapan wanita itu, membuat Tama kembali ingin mengeluarkan air matanya.

“Kasihan Rena, udah empat tahun, tapi kamu belum juga ikhlas. Rena pasti sedih kalo kamu kaya gini terus.” Ujarnya.

Wanita itu meraih wajah Tama, menangkupkan wajah milik Tama dengan dua tangannya, “Biarin Rena pergi dengan tenang, ya?” Tak ada jawaban dari Tama. Mata milik wanita itu terlihat mulai berkaca-kaca, menandakan satu buliran air mata akan keluar dari mata indahnya.

“Tari, maaf..” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Tama.

Wanita yang ternyata adalah istri Tama itu bernama Tari.

Mendengar itu, Tari hanya bisa tersenyum, sembari berkata, “Bukan salah kamu,” Ujarnya menggantungkan kalimatnya, “aku yang salah, karena belum bisa jadi perempuan yang bisa ngegantiin Rena di hati kamu.”

Sial, ucapannya semakin membuat Tama merasa bersalah.

Tama berpikir, mengapa wanita ini mau menjadi pendamping hidup seorang laki-laki yang bahkan laki-laki itu belum menyelesaikan perasaannya untuk seorang gadis yang sudah Tuhan ambil.

Namun, bagaimanapun juga, Tari lah yang sudah menemani dan selalu ada untuknya ketika ia menghadapi segala pahit dan perihnya hidup yang ia jalani, ketika Rena harus pergi karena Sang Maha Pencipta sudah memanggilnya.

“Aku ngga bakal berhenti berusaha untuk bisa nempatin satu ruangan di hati kamu yang selalu kamu tutup rapat-rapat, karena di dalamnya selalu kamu simpan dan kamu tata rapih buat Rena.” Ujar Tari dengan senyumnya yang tak pernah luntur menghiasi wajah manisnya.

Senyum milik Tari yang Tama tau hanya sebuah senyum yang melambangkan kebahagiaan dan kekuatan. Padahal, senyumnya penuh luka, penuh kesakitan, dan penuh duka yang selalu ia tahan.

“Kamu pasti mikir, kenapa aku ngga nyerah aja. Iya, kan?” Tanya Tari.

Tama hanya memandang wajah istrinya itu tanpa menjawab pertanyaannya.

“Karena ini.” Ucap Tari sembari membawa tangan milik Tama untuk menyentuh perut buncitnya.

Hening, keduanya terdiam.

Tari mulai menitikan satu tetes air matanya, “Kamu ngerasa gak, ada yang gerak-gerak?” Tanya Tari.

Tama menganggukkan kepalanya, telapak tangannya yang masih menempel di perut buncit yang berbalut dress hamil milik istrinya itu, membuat tangannya merasakan sesuatu yang bergerak-gerak dari perut Tari.

“Kamu tau? Dari tadi pagi, anak kita udah bisa nendang-nendang.” Ucap Tari lagi.

Tama yang merasakan hal itu pada tangan kanannya, segera mengusap pelan perut milik istrinya. Ia kemudian menaruh foto yang sedari tadi ia genggam di tangan kirinya, ke dalam sebuah kotak merah itu kembali.

Posisi Tama yang sedang duduk menyamping di kursi dan Tari yang sedari tadi hanya berdiri. Tama meraih pinggang Tari, kemudian ia memeluk dan menaruh pipi kanannya pada permukaan perut milik istrinya.

“Maafin papa, ya..” Lirih Tama, kemudian ia memejamkan matanya, merasakan sensasi pergerakan calon buah hatinya di pipi kanannya.

Mendengar itu, Tari kemudian menyentuh kepala Tama, mengusapnya lembut, membuat Tama merasa tenang.

Entah, Tari harus senang atau sedih. Bisa dibilang ini pertama kalinya suaminya itu memeluknya.

Ia pun bingung, apakah Semesta akan mengizinkannya untuk berhasil membuka ruangan di dalam hati Tama yang selalu tertutup rapat. Atau ternyata, selama ini Semesta sudah memberikannya pentujuk untuk berhenti memperjuangkan ini semua, tetapi dirinya saja yang selama ini tidak pernah sadar akan petunjuk yang Semesta berikan?

Entahlah, biarkan waktu yang menjawab semua ini.

“Tama,” Ujar Tari.

“Ya?”

“Liat aku.”

Tama tidak melepaskan pelukannya pada pinggang Tari, ia hanya mendongak untuk menatap istrinya itu.

“Selamat ulang tahun, ya.” Ujar Tari dengan sangat tulus, tak lupa juga senyumnya yang ia ukir di bibirnya.

“Aku punya hadiah buat kamu.” Ujar Tari, ia kemudian menampilkan tangan kirinya yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Tari menyodorkan sebuah kotak kecil yang langsung Tama raih.

Tama membuka kotak tersebut, dan kemudian menampilkan beberapa buah foto yang mampu membuatnya mengembangkan senyumnya.

“Tari?”

“Iya,”

“Kamu kan pernah nulis di note, kalo kamu pengen punya anak pertama itu laki-laki, biar kalo punya adik bisa jaga adiknya sekuat tenaga, kaya papanya.” Ujar Tari lagi.

“Anak kita laki-laki?” Tanya Tama lagi yang masih menatap beberapa foto hasil USG kehamilan istrinya itu.

“Iya.” Jawab Tari.

Tama mengembangkan senyumnya, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan di depan istrinya.

Tama berdiri dari duduknya, ia kemudian menatap Tari dan membawanya ke dalam dekapannya.

Tama berkali-kali menciumi pucuk kepala Tari, membuat Tari tak tahan untuk menahan tangisnya.

Mungkin kali ini, tangis bahagia.

“Makasih..” Ucap Tama.

“Maafin aku, maafin aku yang selama ini-“

“Tama,” Ucap Tari memotong pembicaraan Tama.

“Mau mulai semuanya dari awal? Mau ikhlasin Rena biar dia bisa tenang di sana? Dan, demi anak kita?” Tanya Tari.

Tak ada jawaban dari Tama.

“Oke, maaf..” Ucap Tari meminta maaf karena merasa lancang telah berbicara seperti itu kepada Tama.

“Ayo,”

“Ayo mulai semuanya dari awal, Tari.”

Tama melepaskan pelukannya, meraih wajah Tari yang ternyata sudah dibasahi air mata.

Tama mengusap pipi Tari, menghapus air mata yang membasahi wajah cantiknya itu.

“Harusnya aku ikhlasin Rena,”

“Rena juga mau aku bahagia di sini,”

“Dan bahagianya aku, Tuhan takdirkan di kamu.” Ucap Tama.

Tama melipat kakinya, menumpu lututnya di lantai agar sampai pada perut milik istrinya.

“Sehat-sehat, ya, anak papa. Kalo kamu udah lahir, nanti kita main bola.” Ujar Tama, ia kemudian kembali memeluk pinggang Tari dan kembali menaruh pipinya di perut buncit milik istrinya.

Tari mengusap kepala suaminya dengan lembut, air matanya kembali ia jatuhkan di pipinya.

Tama yang dahulu adalah kakak tingkatnya, yang ia tau bahwa Tama adalah kekasih Rena, sahabatnya.

Tari yang tau bahwa sahabatnya ini menyukai Tama, membuat ia diam seribu bahasa untuk tidak mengatakan perasaanya yang ternyata juga mencintai Tama.

Hingga saat itu, Rena tau perasaan Tari. Rena tak marah sama sekali pada sahabatnya, dan saat yang bersamaan pula, Rena memberi tau pada Tari dan Tama bahwa dirinya mengidap kanker, membuat Tama sangat frustasi ketika tau sesuatu yang selama ini Rena sembunyikan.

Dan, Tuhan harus menjemput Rena untuk pulang.

Rena yang sebelumnya memberi sebuah surat kepada Tama, memintanya untuk menjadi pendamping hidup dan menjaga sahabatnya yang sudah lama memendam perasaannya itu kepada Tama.

Hingga detik ini, banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Tari.

Apakah suaminya ini sungguh-sungguh? Apakah suaminya ini bisa mengikhlaskan semua yang telah berlalu? Atau, haruskah ia berhenti?

Mungkin, jawabannya sama seperti apa yang pernah Tari ucapkan sebelumnya?

Biarlah waktu yang menjawab semuanya, biarlah ia menjalani apa yang sedang terjadi saat ini, biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya. Perihal rasa sakitnya, mungkin itu sudah menjadi risiko dalam takdir yang ia dapatkan di hidupnya.