##

Gama, laki-laki berkaus putih dengan jaket hitam yang juga dikenakannya itu melangkahkan kakinya menuju studio radio yang ada di kampus ini.

Sesampainya di ruangan yang dituju, bola mata hitam pekatnya itu menangkap seorang gadis yang sedang berdiri di dekat jendela. Siapa lagi kalau bukan Aletta?

Gama tidak langsung menghampirinya, laki-laki itu menaruh tasnya di sebuah meja terlebih dahulu, kemudian membuka laptopnya.

Aletta sadar akan kedatangan Gama, gadis itu hanya tersenyum lebar tanpa menghampiri kekasihnya.

Aletta kembali membuka script yang ada ditangannya. Itu adalah script milik Gama yang berisi naskah siaran. Kekasihnya ini adalah seorang penyiar radio di kampusnya.

“Eh, Gama? Udah di sini aja,” ujar seorang perempuan yang mungkin adalah anggota studio.

Gama hanya tersenyum membalasnya.

Tak lama kemudian, mulai banyak orang yang memasuki studio ini.

Gama masih berkutat dengan laptopnya, mempersiapkan yang harus disiapkan untuk siarannya beberapa jam lagi.

Namun, Gama teralihkan karena mendengar bisikin dari dua perempuan yang ada di belakangnya.

“Si Letta ke sini buat ketemu Gama?” bisik salah satu perempuan itu pada temannya.

Bisikin-bisikan itu terdengar jelas oleh telinga Gama. Membuatnya sedikit tak nyaman.

“Eh, itu celananya Aletta kenapa deh? Bocor?” bisiknya lagi.

Mendengar itu, Gama langsung melihat ke arah Aletta. Gama sedikit terkejut ketika melihat Aletta. Ia langsung melihat ke sekitar berharap tidak ada yang sedang mengamati Aletta selain dua perempuan yang sedang berbisik-bisik di belakangnya.

Gama segera membuka jaket yang dikenakannya dan langsung meghampiri Aletta untuk melingkarkan jaketnya pada pinggul Aletta.

Aletta sedikit terkejut dengan Gama yang tiba-tiba melingkarkan jaketnya di pinggulnya. Laki-lakinya itu segera bergegas menuntunnya pergi keluar dari ruangan itu.

“Eh? Kenapa?” tanya Aletta.

“Kamu bocor.”