Disappointed.

Dengan langkah yang sangat cepat, Kia menuju lokasi yang sebelumnya Evan kirimkan.

Lokasi itu menuntunnya ke sebuah apartemen yang besar. Kia memasuki lift untuk menuju ruangan yang Evan berikan.

Kakinya bertumpu dengan sedikit bergetar, pikirannya entah ke mana. Hati dan pikirannya terus berperang, apakah ini keputusan yang tepat?

Sampailah ia tepat di depan pintu sebuah ruangan yang Evan katakan.

Lagi-lagi hati dan pikirannya kembali beradu. Kia menghembuskan napasnya, memejamkan matanya, merasakan segala pikiran yang sedari tadi mengacau. Rasanya ingin berbalik arah, namun mungkin sudah terlambat. Keegoisannya sudah terlanjur mengubah segalanya.

Bodoh, bisa-bisanya dia menghancurkan laki-laki yang hatinya sekuat besi, yang sabarnya melebihi seseorang yang doanya tak kunjung Semesta kabulkan. Fajar terlalu palamarta untuk mendapatkan wanita tambung seperti Kia.

Kia kembali membuka ponselnya, melihat kembali room chatnya dengan Evan. Ia melihat angka-angka yang Evan berikan padanya sebagai password pintu besar ruangan itu.

Entah kini apa yang sedang merasukinya, dengan mantap, Kia menekan tombol-tombol password ruangan itu dan terbukalah pintunya.

Kia melangkahkan kakinya untuk masuk. Tentunya dengan ragu, sangat ragu.

Ia sampai pada pertengahan ruangan ini, tetapi belum juga menemukan laki-laki yang memintanya untuk datang kemari.

Kia melirik sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Karena pikirannya yang mengatakan bahwa ada Evan di ruangan itu, Kia segera menghampirinya.

Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai tepat di hadapan pintu itu. Kia melangkahkan satu langkahnya lagi, berniat untuk mengintip terlebih dahulu, memastikan apakah ada Evan di dalamnya.

Deg.

Seketika kakinya langsung melemas, jantungnya berpacu hebat.

Apa yang sedang Semesta rencanakan? Kenapa Semesta selucu ini?

“Epan ....” ujar Kia dengan suara pelan.

Yang dipanggil tak juga meliriknya, mungkin karena suara Kia yang terlalu pelan.

Buliran bening mulai keluar dari mata indahnya. Sakit, hatinya sangat sakit. Dengan jelas, dengan langsung, dan dengan mata kepalanya sendiri ia melihat laki-laki yang membuatnya rela sampai harus menyakiti kekasihnya itu sedang bercumbu dan beradu bibir dengan mesra bersama seorang wanita.

“EPAN!”

Evan menengok ke arah teriakan yang memanggilnya.

Laki-laki yang sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita itu menghentikan aktivitasnya.

“Kia?”

Kia segera memutar tubuhnya, berlari dan meninggalkan ruangan ini.

Evan hendak mengejarnya, namun wanita yang sedang berada di pelukannya itu menahan lengannya.

“Lo mau ke mana?”

Evan menepis dengan kasar tangan wanita itu.

Evan segera berlari menghampiri Kia. Penampilannya yang hanya memakai celana pendek dan kemeja yang sedikit berantakan itu tak membuatnya menghiraukan penampilannya.

Entah ke mana perginya Kia, gadis itu sangat cepat melangkahkan kakinya.

Evan, sama jahatnya dengan Kia.