ㅡ
Kia duduk di sebuah bangku yang ada di depan kelasnya, kemudian ia membuka ponselnya sembari menunggu kedatangan Eca.
Kia mengayunkan kakinya, rambutnya yang diikat kebelakang itu membuatnya seperti anak kecil yang sedang menunggu ibunya menjemput.
Pandangan yang semula fokus ke ponsel yang sedang dimainkannya, seketika teralihkan saat nalurinya menangkap seorang laki-laki yang memakai jeans putih lewat di hadapannya.
Kia menengok ke arah laki-laki yang baru saja melewatinya, ia kemudian mengejar laki-laki itu.
“Epan!” Ucapnya setengah berteriak.
Kia terus mengejar laki-laki itu sampai jarak diantaranya sudah tidak terlalu jauh, kemudian ia menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Evan.
“Kamu baru selesai kelas?” Tanya Kia pada Evan.
Namun, yang ditanya tidak menjawab apapun, dan terus melangkahkan kakinya.
“Epan.”
“Epan!” Ucap Kia membuat sang pemilik nama memberhentikan langkahnya.
Evan melepaskan airpods yang ada di telinganya, ia kemudian menatap Kia dengan tatapan yang tajam.
“Lo ngapain ngikutin gue sih?” Tanya Evan.
“Ya, emang ngga boleh?”
Evan menghela napasnya kasar, “Jangan so akrab deh, gue harus gimana lagi bilang ke lo kalo gue ga kenal sama lo?” Tanya Evan dengan tatapan tajamnya yang tak pernah ketinggalan.
Kia mengembangkan senyumnya ketika mendengar kata-kata yang baru saja Evan ucapkan, “Kamu ngga usah pura-pura lagi deh.”
“Kamu Revan Raditama yang dipanggil Epan, anak Bandung yang lahir tanggal enam Juni, suka makan kiko, dan kamu juga anaknya tante Rena. Iya, kan?” Ujar Kia.
“Evan!” Teriakan seorang gadis yang memiliki rambut terurai panjang membuat sang pemilik nama itu menoleh.
Gadis itu adalah Silla.
Silla menghampiri mereka kemudian melihat ke arah Kia, “Eh, masih ngobrol sama temen lo?” Tanya Silla pada Evan.
Silla menyalurkan tangannya untuk mengajak Kia berkenalan “Hai, gue Silla.” Ucapnya dengan senyum yang mengembang.
Kia terdiam, ia tau gadis yang sedang mengajaknya bersalaman ini adalah kekasih Evan.
Kia tersenyum kemudian menerima tangan yang Silla ulurkan, “Nakia.”
Senyum yang sedari tadi terukir di bibir Silla seketika luntur. Entah, aneh rasanya setelah mendengar nama dari lawan bicaranya.
Evan yang merasakan kecanggungan ini pun berdeham, membuat keduanya melepaskan tautan salamannya.
Tanpa berkata apapun, Evan langsung meninggalkan dua gadis itu. Silla yang melihat Evan pergi begitu saja pun pamit kepada Kia.
“Evan, mau ke mana?” Tanya Silla yang tidak ditanggapi oleh Evan.
“Nakia, gue ke sana ya.” Ucap Sil”- yang kemudian diangguki oleh Kia. Gadis itu kemudian berlari menyusul Evan.
Kia menatap langkah mereka yang semakin lama semakin menjauh.
“Oh, itu Silla.”