“Lo licik banget,” ujar Evan yang emosinya sudah mulai naik.

Silla mengernyitkan dahinya, seolah tak tahu apa yang dimaksud oleh Evan.

“Maksud lo? Dateng-dateng langsung bilang gue licik.”

Evan mengeluarkan ponsel miliknya, ia kemudian membuka sebuah aplikasi yang ada di ponselnya.

Laki-laki itu mendekatkan ponselnya pada telinga Silla, kemudian menaikkan volume ponselnya dengan volume yang cukup tinggi.

“Dengerin.” Evan menatap Silla sinis.

Evan memutar sebuah rekaman yang berdurasi sekitar empat puluh detik.

Suara rekaman seorang laki-laki yang berdurasi lima belas detik itu mampu membuat Silla mematung. Raut wajahnya benar-benar terkejut, seakan merasa sedang tertangkap basah.

Evan menaikkan satu alisnya, menunggu sebuah alasan yang pastinya akan menjadi elakkan dari Silla.

“Gue yakin lo ngga tuli,” ujar Evan.

“Atau perlu gue ulang lagi?”

Evan mengulang kembali audio rekaman itu, kali ini dengan volume yang paling tinggi.

“Gue bahkan baru tahu kalo Silla hamil, gue bener-bener baru tahu kabar ini dari temennya dia.”

Terdengar jelas suara laki-laki yang ada di dalam rekaman itu.

“Gue minta maaf, gue harus bilang ini karena kalo gue ga bilang, ya ini ga manusiawi.”

“Itu bukan anak lo, itu anak gue.”

“Bahkan sebelum lo ajak dia ke apart lo, usia kandungannya udah dua minggu lebih. Gue tahu ini semua dari temennya dia, and sorry udah bikin lo harus nanggung semuanya.”

Silla masih terdiam, entah harus berbicara apa.

“Masih belum jelas? Oke, gue replay lagi.”

Sila menahan tangan Evan.

“Cukup.”

“Gue mau denger apa yang bakal jadi alasan lo kali ini,” ucap Evan.

Lagi-lagi, Silla terdiam.

“Kok diem?”

“Ayo, apa?”

“Gue kaya gini, karena gue sayang sama lo.” Akhirnya Silla membuka suara.

Evan menyunggingkan ujung bibirnya, menciptakan senyum yang sangat sinis.

“Sayang apanya? Bukan gini caranya. Sayang sama gue kok main sama cowok lain.”

“Ya, bodoamat sih. Gue gak urus lo mau ngapain aja.”

“Lo jahat banget ....” Ujar Silla.

“Lo bersikap seakan lo ada rasa sama gue, sikap lo selama ini yang bikin gue berpikir kalo lo beneran sayang sama gue.”

“Bertahun-tahun lo nunggu Kia, tapi lo juga ngga sadar kalo bertahun-tahun juga gue nunggu lo, bertahun-tahun gue nolak semua cowok yang deketin gue demi lo.”

“Lo juga jahat,” ujar Evan sembari menghapus air mata di pipi kanan Silla.

“Rio yang ternyata udah nunggu lo dari awal masuk kuliah, tapi sekarang lo malah main kotor sama cowok lain.”

Setelah mengatakan itu, Evan segera pergi meninggalkan Silla. Perempuan itu terus menahan tangan Evan.

“Pan, Epan ... lo mau ke mana?”

Evan menepis tangan Silla dengan kasar.

“Dengerin gue dulu.”

Evan tak memedulikan Silla, laki-laki itu segera keluar dari rumah Silla.

“Epan, lo ngga pernah ngerti perasaan gue ke lo.”

Lagi-lagi, Evan tak menggubrisnya. Ia malah segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya, meninggalkan pekarangan rumah Silla.