Dinner.

Seperti yang Fajar bilang sebelumnya, Hari Sabtu, malam Minggu, bunda Kia mengajak Fajar dan Kia untuk makan malam bersama.

Karena Kia tinggal bersama ayahnya, dan tidak satu rumah dengan bundanya dikarenakan bunda dan ayahnya yang berpisah, jadi mereka makan malam di rumah milik bundanya Kia.

Mereka sudah menghabiskan hidangan makan malamnya, dan kini sedang memakan hidangan penutupnya sembari berbincang kecil.

“Jar, kamu sekitar kurang dari tiga semester lagi udah mulai skripsi, ya?” Tanya bunda Kia.

“Iya, tante.” Balas Fajar, tak lupa disertai dengan senyumnya.

Bunda Kia mengangguk-ngangguk, “Bagus-bagus, jangan dibawa stres ya, enjoy aja. Ada Kia nih yang siap nemenin kamu.”

Kia dan Fajar tertawa kecil, “Kiki mah walaupun aku ngga lagi skripsian juga selalu nemenin aku, tante.” Ujar Fajar.

“Kalo kalian udah selesai kuliah, cepet-cepet lah ya tuker cincin.” Ujar bunda Kia.

“Bunda, apaan sih.”

Lagi-lagi Fajar tertawa, “Siap, tante. Tenang aja.”

Malam itu, mereka banyak berbincang yang selalu dihiasa dengan tawa bahagia.

Kia sudah menjalankan hubungannya dengan Fajar hampir selama dua tahun, semenjak Kia menduduki bangku kelas dua SMA.

Fajar yang selalu memperlakukan Kia dengan baik, selalu menjaga Kia, selalu ada di sisi gadisnya, selalu bisa menjadi penenang ketika Kia merasa lelah dengan pahitnya hidup dan selalu menjadi tempat pulang terbaik untuk gadisnya. Hal itu membuat bundanya juga menyayangi kekasih anaknya itu sudah seperti anak sendiri.

Memang Fajar menantu idaman.