ㅡ
Jay menghampiri Aletta yang sedang duduk manis di sebuah kursi dekat tiang speaker yang ada di kampusnya. Tujuannya agar ia bisa mendengar jelas suara Gama yang sedang siaran.
“Ga ada siaran kan?” tanya Jay saat ia menduduki dirinya di samping Aletta.
Aletta tersenyum kemudian menggeleng.
Jay memiringkan kepalanya agar bisa melihat jelas wajah Aletta.
“Abis nangis ya lo?” tanya Jay ketika sadar pada mata Aletta yang sedikit sembab.
Aletta terkekeh, “ngga, lah.”
“Eh, Al,”
“Apa?”
“Kemarin kan galon di rumah abis, terus gue nyuruh Gama buat beli galonnya.” Jay mulai bercerita.
“Terus?”
“Dua jam gue tungguin, kok lama bener beli galon doang. Eh, balik-balik ga bawa galonnya.”
Aletta dengan seksama mendengarkan cerita dari laki-laki itu.
“Katanya di tokonya ngga ada, soalnya dia belinya ke matrial.”
Tawa Aletta langsung pecah ketika mendengar cerita dari Jay. Aletta sudah menebak dari awal bahwa Jay akan bercerita yang aneh-aneh.
“Lo tau gak?”
“Apa?” tanya Aletta penasaran.
Aletta yakin, Jay akan mengeluarkan leluconnya lagi.
“Cowok lo tuh pinter banget manjat, padahal bukan keturunan monyet.”
Lagi dan lagi tawa Aletta mengiri lelucon itu. Tanpa sadar, Aletta tertawa sembari memukul-mukul dengan keras bahu Jay. Sebenarnya sakit, tapi Jay hanya diam dan ikut tertawa.
Seketika terlintas di pikiran Aletta. Mengapa Jay terlihat begitu ceria? Bukankah ia sedang berduka? Sedikit terlihat mata milik Jay itu sembab. Mungkin masih menangisi dengan apa yang baru saja terjadi. Tetapi sepertinya kini di depan Aletta Jay memakai topeng untuk menutupi kesedihannya.
“Al.”
“Apa? Lo punya jokes apa lagi?” tanya Aletta dengan sisa tawa ringannya.
“Ga mau ngejokes sih, mau ngajak jalan. Mau?”
Seketika tawa Aletta terhenti ketika mendengar ajakan dari Jay.
“Ke?”
“Ke mana aja, terserah lo. Mau?”
Aletta terlihat berpikir sejenak.
“Anter ke gramed deh, sekalian mau ada buku yang dibeli. Gapapa?” gadis itu memastikan.
“Ayo.”
Aletta dan Jay langsung bangkit dan segera menuju parkiran.
Dari jauh, ada seorang laki-laki yang memperhatikan mereka berdua.
Benar, itu adalah Gama.
Gama dari jauh menikmati tawa Aletta. Tawa yang begitu candu baginya.
Sangat ada rasa bersalah di dalam hatinya. Ia ingin sekali memghampiri Aletta dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya beberapa hari yang lalu. Namun, Jay lebih dulu menghampiri Aletta, membuat Gama mengurungkan niatnya.