Makam Ibu.

“Udah? Mau pulang?” Tanya Evan yang berada di samping Silla yang sedari tadi menatap batu nisan milik makam ibunya.

“Belum.” Jawab Silla.

“Udah mau hujan, La”

Tak ada jawaban dari Silla, perempuan itu malah menundukkan kepalanya dalam, meremas kuat baju yang dikenakannya.

“La?”

“La, udah..” Evan sadar apa yang sedang dirasakan wanita itu.

Evan meraih pundak Silla, memupuknya pelan, memberinya ketenangan.

“Ibu lo udah tenang di sana. Udah ah, jangan nangis.”

Tanpa sadar, mata milik Evan pun mulai ikut mengeluarkan buliran air matanya. Seolah apa yang sedang dirasakan oleh Silla pun turut ia rasakan.

“Tadi pas di mobil gue udah bilang berkali-kali, kan? Nanti kalo udah nyampe di sini, lo harus kuat, jangan nangis.” Ujar Evan.

“Gue..”

“Pengen ketemu ibu.” Lirih Silla yang membuat air matanya semakin deras.

“La, lo nangis gini di depan tempat istirahat ibu, nanti malah bikin ibu sedih.”

“Lo harus ikhlas La, Biar ibu bisa tenang.”

“Udah, ya? Kita pulang.”

Silla meneggakkan kepalanya kembali, menampilkan pipinya yang cukup basah akibat tangisannya, kemudian ia menuruti perkataan Evan. Silla kembali menyentuh batu nisan milik ibunya dan berpamitan kepada ibunya.

Mereka kemudian kembali menuju mobil yang diparkirkan tidak jauh dari lokasi makam ibu Silla.

Saat mereka sudah di dalam mobil dan sebelum Evan melajukan mobilnya, satu tangan milik laki-laki itu meraih wajah Silla.

“Coba liat sini dulu.” Ucap Evan.

Silla menengokan wajahnya ke arah Evan, “Tuh, kan. Lo tuh udah jelek, kalo nangis malah makin jelek.” Ujar Evan membuat sang lawan bicara melayangkan pukulannya tepat di bahu Evan.

“Rese.” Ujar Silla.

Evan meringis, namun di detik selanjutnya ia mengeluarkan tawanya, “Emang lo jelek.”

Silla tak menggubrisnya, merasa malas dengan tingkah laki-laki ini.

“Jangan ngambek ah, sini.” Ujar Evan sembari menarik lengan Silla, membawanya ke dalam pelukannya.

“Evan,”

“Hm?”

Silla ingin sekali menanyakan hal ini, hal yang sering Silla tanyakan pada pria yang sedang memeluknya. Namun jujur saja, sangat berat, karena ia tau apa yang akan menjadi jawabannya.

“Kita ini..”

“Sebenarnya apa?”