ㅡ
“Americanonya satu, sama apa lagi, kak?”
Alih-alih menjawab pertanyaan dari seorang pelayan cafe itu, Aletta malah berceletuk, “Pelayan cafe yang itu ganteng.”
“Gimana, kak?” tanya pelayan cafe itu memastikan maksud dari ucapan Aletta.
“Mas-mas yang itu suruh samperin saya, ya,” ujar Aletta sembari menunjuk salah satu pelayan laki-laki yang mungkin sedang sibuk merapihkan beberapa gelas yang hendak diantarkannya ke pengunjung cafe.
“Maaf, kak. Tapi—“
“Saya temen deketnya Nandra.”
Seketika pelayan cafe itu tak berbicara lagi, hanya mengangguk dan segera menghampiri pelayan laki-laki yang baru saja Aletta sebut tampan. Tentu saja itu adalah Gama.
Pia yang sebelumnya mengirim sebuah foto sekumpulan pelayan cafe milik orang tuanya Nandra, yang di dalamnya terlihat jelas bahwa ada Gama di sana membuat Aletta segera bergegas menuju cafe tersebut.
Gosh. Apa lagi ini? Apa yang Gama sembunyikan lagi darinya? Apakah Gama menjadi pelayan cafe di sini itu menjadi alasannya selalu bolos kuliah? Tapi mengapa Gama menjadi seperti itu hanya karena menjadi seorang pelayan cafe? Kenapa banyak sekali sesuatu yang tidak pernah diceritakan oleh Gama padanya? Apakah sulit untuk bercerita? Atau memang, Gama yang tidak pernah mau menjadikan Aletta rumah?
Dari kejauhan Aletta bisa melihat, pelayan yang baru saja menghampirinya itu kini sedang berbisik-bisik dengan Gama. Pasti sedang menyampaikan apa yang baru saja Aletta katakan.
Gama langsung melihat ke arah Aletta, raut wajahnya terkejut bukan main.
Saat Gama melihat ke arah Aletta, gadis itu mengangkat satu tangannya, menandakan sebuah lambaian namun tanpa diiringi senyum sedikit pun. Melihat itu, Gama menggaruk tengkuknya sebelum membalas sebuah lambaian pada Aletta dengan kaku sembari menyengir dari kejauhan.