Me time.

Kia berbohong pada kekasihnya bahwa ia akan pulang bersama Eca. Nyatanya, gadis itu kini sedang duduk manis di sebuah cafe dan tentunya hanya seorang diri, tanpa ditemani Eca. Posisinya yang di samping jendela membuat gadis itu sedang menatap jendela kaca yang lebar, memandang suasana di luar cafe yang lumayan ramai.

Pesan dan ucapan-ucapan yang Evan kirim tadi lah yang membawanya sampai pada cafe ini. Jujur saja, Kia merasa sedih ketika teman kecil yang ia sudah sangat hafal bagaimana sifatnya yang sangat baik dulu, kini mengeluarkan segala perkataan yang membuat hatinya sedikit sakit.

Bukan, bukan sedikit sakit. Kia memang merasakan sakit di hatinya ketika ia harus menerima pesan yang Evan kirim.

Ah, iya. Kia sudah hampir tujuh tahun tidak bertemu dengan Evan. Manusia bisa saja berubah, bukan?

Saat Kia merasa hatinya sedang tidak baik, ia akan mengambil waktunya untuk dirinya sendiri. Mencoba menenangkan dan mencoba mengembalikkan suasa hati yang baik dengan cara pergi ke suatu tempat sendiri, tanpa ditemani atau tanpa ada teman yang bisa diajak untuk berbincang.

Sudah cukup lama Kia hanya duduk dan memandangi jendela cafe itu, tanpa meminum minuman pesanannya yang sedari tadi sudah ada di mejanya.

Hingga tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri mejanya.

“Halo.” Ucap laki-laki itu.

Kia tak menyahut, gadis itu terlihat masih fokus dengan pandangannya yang terus menatap jendela.

“Halo, Kia?”

“Nakia?”

Karena masih tak ada respon dari Kia, laki-laki tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Kia, sehingga pandangan Kia teralihkan ke wajah laki-laki itu karena kepalanya yang menutupi pemandangan jendela.

Laki-laki itu pun tersenyum ketika Kia terkejut.

“Maaf.” Ujar laki-laki itu.

“Lo Nakia, ya?”

“Eh? Iya.” Jawab Kia.

Senyum laki-laki berjaket hitam itu masih mengembang, “Masih inget gue?” Tanyanya.

Kia mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa laki-laki yang ada di hadapannya.

Ah, iya. Dia ingat sekarang.

“Aldo?”

Laki-laki itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.

Laki-laki berbadan tinggi itu adalah Aldo Galendra. Teman kecil Kia saat ia masih di Bandung dulu.

Kia masih menatap Aldo tidak menyangka, karena bisa bertemu di sini. Wajahnya yang sudah cukup berbeda sampai ia pun hampir tidak mengenalinya.

“Gue boleh duduk di sini?” Tanya Aldo.

“Boleh, duduk aja.” Jawab Kia.

Aldo duduk di kursi yang ada di hadapan Kia. Mereka saling menanyakan kabar yang kemudian dilanjutkan dengan obrolan-obrolan lainnya.