Dengan ragu, Aletta menepati janjinya untuk datang ke studio radio yang ada di kampusnya untuk menemui Gama. Mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu, ia merasa malu untuk mendatangi studio ini lagi.

Namun, saat Aletta memasuki ruangan itu, tidak ada seorang pun di dalamnya. Aletta hanya melihat tas milik Gama yang terletak di atas meja.

Aletta membuka ponselnya dan menelfon Gama untuk menanyakan keberadaannya. Namun, terdengar suara dering telfon dari dalam tas milik Gama. Aletta segera mematikan panggilannya dan membuka tas Gama untuk mengambil ponsel milik laki-lakinya itu.

Senyumnya mengembang ketika pertama kali ia membuka ponsel milik Gama, lockscreennya menampilkan sebuah background hitam dengan huruf “A” di tengah-tengahnya.

“A? Aletta, kan?” gumam Aletta.

Ternyata ponselnya itu tidak dipasangkan kode sandi atau semacamnya, sehingga Aletta bisa dengan mudah membukanya.

Entah kenapa kini jari-jarinya menuntun untuk membuka notes yang ada di ponsel milik Gama.

Senyum Aletta kembali merekah ketika melihat notes yang berisi sebuah to do list today.

“Emang anaknya susah ditebak, ya?”

Aletta kembali membuka sebuah notes yang lagi-lagi menarik perhatiannya. Namun, senyumnya kini berubah menjadi datar, sangat datar.

Setelah membaca notes itu, Aletta segera mematikan ponsel milik Gama dan langsung dimasukannya kembali ke dalam tas Gama.

Pikirannya kini tak bisa berpikir sehat, hatinya pun terasa ada yang mengganjal.

Aletta memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan napasnya perlahan.

“Nunggu dari tadi?” suara Gama yang tiba-tiba itu membuat Aletta sedikit terkejut.

Aletta menggeleng, “baru.”

“Abis beli minuman dulu,” ujar Gama sembari menyodorkan sebuah minuman pada Aletta yang baru saja dibelinya.

Aletta hanya menaruh minuman itu di atas meja tanpa meminumnya. Pikirannya kembali tertuju pada sebuah notes di ponsel milik Gama yang baru saja dibacanya. Sehingga terlihat jelas oleh Gama bahwa raut wajah Aletta kini seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kenapa?” tanya Gama.

“Hm?” Aletta hanya bergumam karena tidak fokus dengan apa yang baru saja Gama tanyakan.

“Kamu ngga tenang, ya?” tanya Gama lagi.

“Ngga apa-apa, dua orang yang waktu itu ngeliat kamu bocor ngga bakal ke sini,” ujar Gama sembari diiringi tawa ringannya.

Aletta memukul pelan bahu Gama, “rese!”