ㅡ
“Masih ada waktu tiga puluh menit lagi, ya. Santai aja,” ujar salah satu staff yang ada di studio photoshoot itu.
Benar, kini Aletta akan melakukan photoshoot sesuai janjinya pada bunda kemarin. Bundanya sedang mengobrol dengan temannya dan Aletta menunggu intruksi dari staff sembari duduk manis di sebuah kursi yang sudah disiapkan khusus untuknya.
Aletta memainkan ponselnya, ia mencoba mengalihkan agar rasa groginya hilang. Namun nihil. Ia tidak bisa membohongi bahwa kini ia sangat grogi karena ini adalah pertama kalinya ia menjadi model pemotretan.
“Al.”
Aletta menengok ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggilnya itu adalah Gama.
“Eh? Kamu katanya ada u—“
Ucapan Aletta terpotong, “udah selesai.”
“Tapi kok kamu tau aku photoshoot di sini? Perasaan aku ngga share location ke kamu?”
“Apa yang aku ngga tau?”
Tak ada obrolan lagi diantara mereka, Aletta kembali teralihkan oleh keresahannya.
Gama memperhatikan Aletta, entah apa yang membuatnya tertarik untuk memperhatikan sampai sebegitunya. Namun, Aletta tidak sadar sama sekali bahwa laki-laki yang ada di sampingnya ini sedang memperhatikannya. Mungkin karena gadis itu terlalu larut dengan keresahannya.
Aletta membuka ponselnya, menampilkan layar dan melihat waktu yang menunjukkan bahwa sepuluh menit lagi pemotretannya akan dimulai. Ia semakin merasa grogi, takut jika gagal dan mengecewakan bunda, atau bahkan bisa membuat bunda merasa malu kepada temannya.
Aletta menghembuskan napasnya, menautkan jari-jarinya dan memainkannya dengan penuh keresahan. Gama tentunya sadar akan hal itu karena sedari tadi ia memperhatikan gadisnya.
Gama meraih kedua tangan Aletta dan menggenggamnya. Aletta sedikit terkejut dan segera menatap Gama.
Tak ada satu kata pun yang Gama katakan, laki-laki berkaus hitam itu hanya membalas tatapan Aletta dengan senyuman yang sangat tipis.
Lagi-lagi Aletta menghembuskan napasnya dalam-dalam dan memejamkan matanya sejenak. Gama tau, apa yang sedang dirasakan oleh gadis ini. Gama mengusap pelan punggung tangan Aletta, berharap ia bisa memberikan ketenangan pada gadis itu.
Apa ini? Apa Gama peduli dengannya? Padahal jelas-jelas, kemarin laki-laki itu menolak Aletta yang memintanya untuk menemaninya hari ini dengan balasan yang dingin.
“Nanti kalo udah mulai, kamu tunggu di luar, oke?”
“Kenapa?” tanya Gama.
“Nanti aku makin grogi kalo diliatin kamu.”
Gama mengangguk dengan mengukir senyum manisnya, “iya.”