Lara berbohong pada Tante Hani, ia tidak berangkat bersama Jea, Jea sudah meninggalkannya sedari tadi.

Lara terpaksa harus menggunakan kendaraan umum untuk menuju sekolahnya. Gadis itu berdiri di sisi jalan, menunggu angkot yang menuju sekolahnya datang.

Namun, sudah hampir sembilan menit tak ada satupun angkot yang lewat. Padahal jam sudah menujukkan pukul setengah tujuh lebih dua menit, yang artinya sepuluh menit lagi bel sekolah pertanda pembelajaran di mulai akan berbunyi.

Sepertinya Semesta sedang berpihak padanya. Saat Lara menengok ke samping kanannya, ia mendapati seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya menaiki sebuah motor besar. Laki-laki itu terlihat hendak memakai helmnya.

Lara segera menghampiri laki-laki itu dan langsung menaiki motornya.

Laki-laki itu pun terkejut karena gadis asing yang tiba-tiba menaiki motornya tanpa ada izin sekalipun.

“Eh, ini—“

Ucapan laki-laki itu terpotong oleh Lara, “seragam kita sama, kita satu sekolah. Aku dari tadi ngga dapet angkot, kita kesiangan, sepuluh menit lagi bel masuk. Udah, ayo cepet berangkat,” ucap Lara berturut-turut.

“Jadi maksudnya lo nebeng?” tanya laki-laki itu.

“Iya. Udah ayo cepetan berangkat.”

“Tapi gue cuma bawa satu helm, nanti ditilang.”

“Ga bakal. Please, ayo cepet berangkat.”

Laki-laki itu menghembuskan napas beratnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia melajukan motor besarnya