“Cantik ya bulannya,” ujar Kia yang sedang menopangkan tangannya di sebuah pegangan besi di pinggir pantai.

“Mau secantik apapun tetep aja ngga bisa digapai.”

Kia terkekeh mendengar jawaban dari Fajar, “bisa kalo kamu mau nyamperin ke sana.”

“Kalo bulan ngga bisa digapai, kalo bintang gampang.”

“Kok gitu?”

“Kan kamu bulannya.”

Kia mengernyitkan dahinya, “maksudnya?”

“Kamu itu bulan di antara banyaknya bintang-bintang.”

Kia semakin bingung.

“Karena bintang banyak, jadi gampang buat digapai. Tapi kalo bulan cuma satu, jadi susah buat digapainya.”

Kia masih menatap Fajar bingung.

Fajar menyentuh keningnya sendiri sembari tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Kia.

Fajar memupuk pucuk kepala Kia, “dari dulu emang ya lemotnya.”

Kia menepis tangan Fajar, “ih, bukan lemot! Kamunya aja yang ngga jelas. Apa coba hubungannya aku sama bulan bintang?”

“Gini, Kia ...”

“bagi aku, kamu itu ibarat bulan dan bintang-bintang itu adalah perempuan-perempuan lain. Kamu yang paling terang di antara bintang-bintang itu.”

“Padahal banyak bintang-bintang yang bisa jadi pilihan aku, tapi ternyata ngga ada satu pun yang mau aku pilih, kecuali bulan.”

Lagi-lagi tak ada jawaban, hanya kekehan yang Kia keluarkan sebagai responnya untuk ucapan Fajar.

Kia kembali melihat ke atas, memandang kembali bulan dan bintang-bintang yang mengeluarkan sinarnya dengan indah.

Hari ini Kia menghabiskan waktunya bersama Fajar. Hanya sekedar keliling kota Jakarta dan berakhir dengan melihat langit malam di pinggir pantai. Namun, rasanya benar-benar nyaman. Kia selalu merasa, mau sesederhana apapun yang dilakukannya, jika itu bersama Fajar akan terasa berharga.

Fajar menatap ke arah mata Kia, ia terus bergumam di dalam hatinya, mengatakan bahwa wanita yang ada di sampingnya ini tak pernah membuatnya mengalihkan pandangannya.

Kenapa hari ini waktu berjalan begitu cepat? Benar-benar, rasanya Fajar tak ingin ada hari esok.

“Ki,”

“Hm?”

“Harus berangkat, ya?”

Mendengar itu, Kia langsung menoleh ke arah Fajar.

“Aku boleh minta kesempatan ke dua?” tanya Fajar.

Kia tertawa ringan, “harusnya aku yang bilang gitu.”

“Salah aku juga ...”

“salah aku yang ngga bisa buat kamu bertahan sama aku.”

Laki-laki ini dari dulu tidak pernah berubah. Selalu merasa segala sesuatunya adalah kesalahan dia, membuat kia semakin merasa bersalah. Namun Kia mengerti, sikap Fajar yang seperti itu karena dia yang tidak mau wanita yang dicintainya ini merasa bersalah, sekalipun memang itu adalah kesalahannya.

“Bisa kan, Ki?”

Fajar menggapai tangan Kia.

“Bisa kan aku sama kamu jadi kita lagi?”

Fajar menatap wajah Kia dengan serius, bola matanya itu menatapnya dengan penuh harap. Berharap agar Kia tidak jadi berangkat besok dan berharap semuanya akan kembali seperti semula.

“Bisa kan kita mulai lagi? Bisa kan kamu tetep di sini? Bisa kan kamu ngga berangkat besok?”

Kia paham dengan binaran di mata Fajar yang penuh harap. Sepertinya ia sudah terlalu dalam menorehkan luka pada hati milik lelaki ini. Namun, mengapa Fajar tetap memintanya untuk tinggal? Terbuat dari apa hati lelaki ini?

“Kak, aku—“

“Sayang sama Epan, kan?” ucapan Kia terpotong.

“Aku ngga bisa jadi kaya Epan, ya?”

“Kalo kamu kasih kesempatan buat aku biar bisa jadi kaya Epan, biar aku bisa jadi apa yang kamu mau, gimana?” tanya Fajar.

“Bukan gitu ....”

“Kasih aku buat ambil waktu sendiri dulu, ya?”

Kia melepaskan tangan Fajar yang menggenggam erat kedua tangannya. Gadis itu tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan.

Fajar menghembuskan napasnya berat sebelum ia langsung memeluk tubuh Kia.

“Makasih, ya ....” ujar Fajar dengan pelan.

Kia mengusap pelan punggung Fajar. Kehangatan dan rasa nyamannya masih sama, tak ada yang berubah. Punggung yang selalu memiliki berjuta-juta kekuatan, siapa lagi kalau bukan punggung milik Fajar.

Berkali-kali Fajar menciumi pucuk kepala Kia. Laki-laki itu memeluknya dengan erat, sangat erat. Ternyata masih sama, aroma parfum strawberry yang menjadi ciri khas aroma tubuh Kia itu selalu menjadi candu baginya. Benar, tidak ada yang berubah di antara mereka berdua. Hanya saja, perasaan dari salah satunya yang sudah berubah.

Mati-matian Fajar menahan tangisnya, air matanya benar-benar ingin meledak. Namun, ia tidak ingin Kia melihatnya menangis.

Fajar semakin mengeratkan pelukannya, pikirannya terus mengatakan bahwa ini adalah pelukan terakhirnya bersama Kia. Tubuh yang selalu menjadi tempat mengadu kala ia lelah dengan hari yang telah dilewatinya, tubuh yang menjadi peluk terhangatnya, dan tubuh yang selalu menjadi tempatnya pulang.

Sumpah, Fajar tak ingin ada hari esok, Fajar tak ingin malam ini berakhir.

“Kak,”

Tak ada jawaban dari Fajar.

“Kak?”

Fajar perlahan menghembuskan napasnya, mencoba menetralkan napasnya agar ia tak kelepasan dengan tangisnya.

“Ya?”

“Pulang, yuk? Udah jam segini.”

Lagi-lagi Fajar menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sekejap. Laki-laki itu kemudian melepaskan pelukannya.

Ikhlas, dirinya harus ikhlas jika ini adalah perpisahan yang sesungguhnya.

Fajar mengangguk, ia hendak beranjak mendahului Kia, namun tangannya ditahan oleh gadis itu.

Gadis itu tersenyum, senyum yang selalu menjadi semangat bagi Fajar.

Kia menjinjitkan sedikit kakinya, ia kemudian sekilas mengecup bibir milik Fajar. Bersamaan dengan itu, air mata Fajar pun menetes.

Kia langsung berjalan mendahului Fajar dan menuju mobilnya.

“Ikhlas, harus Ikhlas.”