Evan mengenderai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Napasnya sedikit memburu.

Silla yang duduk di sampingnya hanya bisa merasa khawatir karena Evan yang mengebut. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa, karena ia yakin pasti Evan sedang dalam amarahnya. Ia takut jika harus mengingatkan Evan untuk tidak mengebut.

Untungnya, Evan dan Silla sampai dengan selamat di sebuah restoran yang sudah mereka sepakati sebelum berangkat tadi.

Evan dan Silla segera turun dari mobil dan segera memasuki restoran itu. Mereka kemudian memesan makanan.

Tidak banyak yang mereka perbincangkan selama dalam perjalanan sampai sekarang makanan mereka hampir habis. Silla yang tidak terlalu mengambil topik karena ia paham alasan Evan mengajaknya pergi adalah untuk melampiaskan suasana hatinya yang sedang tidak bagus.

“Abis ini mau ke mana?” tanya Evan tiba-tiba.

“Lho, ya terserah lo. Kan lo yang ngajak keluar.”

Evan menghembuskan napasnya, membuat Silla semakin bingung apa yang sedang terjadi dengan pria ini.

“Gue mau ke toilet,” ujar Silla dan langsung segera beranjak.

Evan melihat ponsel Silla yang tergeletak di mejanya itu. Ia kemudian meraih dan memainkan ponsel milik Silla.

Jangan heran, Evan pasti tau password ponsel milik Silla.

Ada salah satu room pesan yang membuatnya tertarik untuk membukanya.

Ia membaca isi pesan itu. Sampai Silla kembali datang, ia tak juga menaruh ponselnya.

“Lagi liat apa?” tanya Silla yang membuat Evan sediki terkejut.

Evan menggelengkan kepalanya, kemudian segera menyerahkan ponselnya kembali pada Silla.

Evan menatap Silla dengan sangat dalam. Sampai Silla sadar bahwa ia sedang ditatapnya.

“Kenapa?” tanya Silla.

Evan menggeleng.

Tiba-tiba saja, Evan menyodorkan sebuah kotak merah yang sudah terbuka.

“La,”

Silla menengok dengan tatapan heran.

“Cantik ya kalungnya?” tanya Evan.

Evan mengambil kalung yang ada di dalam kontak merah tersebut. Ia kemudian beranjak untuk memakaikan kalungnya pada leher Silla.

Silla hanya terdiam dan bingung.

Evan menatap kalung yang sudah sempurna terpasang pada leher Silla. Laki-laki itu kemudian tersenyum.

“Cantik,” ujar Evan.

“Buat gue?” tanya Silla.

Evan mengangguk, “makin cantik kalo lo yang pake.”