Feelings

Khawatir, itulah yang kini sedang laki-laki itu rasakan.

Laki-laki yang sedang menyetir motor scoopynya dengan rasa khawatir kepada perempuan yang sedang ia bonceng saat ini.

Bagaimana tidak khawatir? Alena, perempuan yang selalu menjadi pengisi ruang di hati Nathan tiba-tiba saja mengajaknya keluar setelah ia mengirimkan foto sang kekasihnya sedang bersama wanita lain, lebih tepatnya sedang mencumbu bibir wanita lain.

Udara malam yang lumayan dingin dan perempuan itu tidak memakai jaket pun menambah kekhawatiran Nathan.

“Mau ke mana?” Tanya Nathan memecahkan keheningan dalam perjalanannya.

“Terserah” Jawab Alena.

Aneh, padahal dia sendiri yang mengajaknya keluar. Dasar perempuan.

“Udah makan malem belum?” Tanya Nathan lagi.

“Belum”

“Makan dulu aja ya, makan di warung pecel lele mau?”

“Gak”

“Nasi goreng?”

“Gak”

“Soto? Enak nih malem-malem gini makan soto anget”

“Aku gak mau makan, Raka”

Raka? Kenapa Wanita itu menyebut nama Raka?

“Len..”

“Apa?” Tanya Alena.

Nathan tidak menjawab lagi, namun sepertinya Alena sadar atas ucapan sebelumnya.

“Maaf” Ucap Alena.

Tidak ada percakapan lagi di antara mereka berdua.

Nathan memberhentikan motornya di sebuah warung soto yang ada di pinggir jalan.

“Nathan, gue gak mau makan” Ujar Alena.

“Siapa yang nyuruh lo makan? Gue yang mau makan”

Mendengar jawaban Nathan, Alena mengerucutkan bibirnya membuat Nathan berusaha menahan senyumnya karena merasa gemas melihat Alena.

Alena terus menatap Nathan saat laki-laki itu sedang menyantap sotonya.

Nathan yang sadar akan itu segera menoleh ke arah Alena, “Mau?” Tanya Nathan.

Alena mengalihkan pandangannya dari Nathan, kemudian menggeleng.

“Udah gak usah bohong, laper kan lo? Gue pesenin”

Kini Alena tidak protes dengan tawaran Nathan dan Nathan pun segera memesankan satu porsi soto berisikan lontong lagi kepada sang penjual.

Alena menyantap habis sotonya, padahal tadi ia membantah tidak mau makan.

“Dasar cewek” Ujar Nathan pelan, bahkan tidak terdengar oleh Alena.

Setelah selesai memakan soto, mereka kembali melanjutkan perjalanannya yang tanpa tujuan itu.

Namun, tiba-tiba Nathan membelokkan motornya ke arah menuju pantai yang ada di kota ini.

Benar saja, Nathan membawa Alena ke sebuah pantai.

Saat sudah memarkirkan motornya, Nathan terus berjalan sampai di tepi pantai.

Alena pun menyusul Nathan dan ketika ia tepat berada di belakang Nathan, lekaki itu segera membalikkan tubuhnya dan melepas jaketnya.

Nathan menyodorkan jaketnya kepada Alena, “Pake, dingin”

“Nanti lo kedinginan juga” Ujar Alena.

“Gak bakal”

Alena meraih jaket itu dan segera memakainya.

Hangat, itu yang kini Alena rasakan.

Malam itu, Alena dan Nathan hanya berdiri memandangi pantai. Tak ada percakapan apa pun, hanya ada suara desiran ombak yang menemani mereka sekarang.

Dua kepala yang masing-masing diisi dengan pikiran-pikiran dan sebuah kehawatiran.

Alena dengan pikirannya yang entah apa, mungkin memikirkan mengapa malam ini Raka pergi ke timezone bersama Naya tanpa sepengetahuannya?

Dan, Nathan dengan segala kehawatirannya terhadap wanita yang ada di sampingnya sekarang.

Khawatir jika terjadi apa-apa kepada wanita itu, yang bisa Nathan pastikan dari raut wajahnya sedang menghawatirkan laki-lakinya.

“Nath” Ujar Alena.

“Hm?”

“Lo capek gak sih punya rasa sama gue?”

“Capek”

Alena menoleh kepada Nathan.

“Tapi harus gimana lagi, iya kan?” Sambung Nathan.

“Raka sayang gak ya sama gue?” Tanya Alena tiba-tiba.

Nathan tersenyum kecut. Bahkan wanita yang ada di sampingnya saat ini menanyakan hal seperti itu.

Apakah Alena tidak menyadari bahwa pertanyaannya bisa melukai hati lelaki yang ada di sampingnya saat ini?

“Gak tau, gue gak bisa baca pikiran orang. Coba lo tanya langsung ke Raka” Jawab Nathan.

“Ish” Ucap Alena sembari menatap Nathan sinis.

“Lo ngapain tiba-tiba ngajak gue keluar malem-malem?” Tanya Nathan.

“Gak apa-apa sih, lagi pengen keluar aja”

“Mentang-mentang cowok lo lagi sama Naya, lo larinya ke gue” Ujar Nathan.

Alena sedikit tersinggung dengan jawaban Nathan.

Alena menghembuskan napasnya, memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin malam di pantai ini.

Nathan menatap Alena. Menatap seorang wanita yang mungkin sampai kapan pun tak akan pernah bisa ia gapai.

“Susah ya, buat gapai lo” Ujar Nathan dalam lubuk hatinya.

Alena masih memejamkan matanya, tangan nathan tergerak untuk meraih pundak Alena. Rasanya ingin membawanya ke dalam dekapannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun belum saja ia sampai meraih pundak perempuan itu, ia langsung menjauhkan tangannya dari pundak Alena. Lagi-lagi kenyataan itu seolah melarang Nathan untuk menyentuh Alena.

“Peluk aja, kalo mau” Ucap Alena tiba-tiba.

Nathan terkejut, bagaimana Alena bisa tau? Padahal ia sedang memejamkan matanya.

Alena pun segera meraih tangan Nathan dan melingkarkannya di pundaknya, kemudian ia juga melingkarkan tangannya ke perut Nathan dan meletakkan kepalanya di dada bidang laki-laki berkaus hitam itu.

Nathan benar-benar terkejut, namun ia tidak bisa membohongi rasa senangnya.

Tangan Nathan mulai terangkat dan menepuk-nepuk dengan pelan pundak wanita yang kini ada di dalam dekapannya.

“Kaya gini lima menit aja, boleh gak sih?” Tanya Alena.

“Boleh” Hanya itu jawaban Nathan. Padahal, bahkan mau sampai berjam-jam pun ia tidak masalah.

“Len..”

“Hm?”

“Everything will be ok” Ujar Nathan.

“Nath”

“Ya?”

“Makasih” Ucap Alena.

“Anytime, Len”