Fight?
ㅡ
Evan baru saja pulang dan pintu rumahnya langsung dibuka oleh mamahnya, sehingga ia langsung melihat figur mamahnya di balik pintu itu.
“Aa, eta kunaon pipinya pada biru kitu kaya abis dipukulin?” Tanya mamahnya dengan raut wajah yang khawatir ketika melihat wajah anaknya yang lebam.
Belum sempat Evan menjawab, tiba-tiba saja Fajar datang dengan pipinya yang juga cukup lebam sama seperti pipi Evan.
Evan dan Fajar adalah stepbrother. mamahnya Evan menikah dengan ayahnya Fajar sekitar tujuh tahun yang lalu.
“Abang Fajar juga pipinya kenapa? Ini pada kenapa sih mukanya pada biru-biru kaya abis ditonjok gitu?” Tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang khawatir karena kondisi wajah dua putranya.
“Abis pada berantem, ya? Hayoh?”
Fajar menggeleng, “Ngga, mah.”
“Jujur, ah. Ini teh ada apa? Kalian berantem? Ngebrantemin naon, kasep?”
Tak ada jawaban dari Evan dan Fajar. Wanita paruh baya itu melihat ujung bibir Fajar yang terluka, sehingga ia menangkup wajah Fajar dengan tangannya, seolah ingin melihat luka yang ada di ujung bibir Fajar dengan detail.
“Ah,” Fajar meringis ketika tangan mamahnya menyentuh luka yang ada di pipinya.
“Ini bibir sampe berdarah gini.”
Wanita paruh baya itu menarik tangan Fajar, menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Bentar, mamah ambil obat luka dulu,” ujarnya.
Evan mengernyitkan dahinya heran. Kenapa yang akan diobati lukanya oleh mamahnya itu hanya Fajar saja?
Evan menatap Fajar dengan tatapan sinisnya, sebelum ia segera bergegas pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas.