First day, we meet again.
ㅡ
Karena airpodsnya yang tertinggal di kelas, mau tak mau Kia memutar balik tubuhnya dan berlari kecil kembali menuju ke kelas untuk mengambil airpodsnya.
Sesampainya di kelas, ia menghampiri meja yang sebelumnya ia tempati. Namun, airpods yang terdapat stiker bunga matahari di bagian casenya itu sudah tidak ada di mejanya.
Ia mencari ke kolong meja, bisa saja airpodsnya terjatuh. Namun nihil, ia tak menemukan apa-apa.
Kia menghembuskan napasnya, menunjukan raut wajah yang sedikit khawatir, “Masa diambil orang sih?”
Kia mencoba mencari kembali, walaupun ia masih bisa membelinya lagi, tetapi Kia adalah seseorang yang cukup hemat, ia akan berpikir berkali-kali untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting.
Kia terus mencarinya sampai ke kolong-kolong meja, sampai akhirnya ada suara laki-laki yang cukup mengejutkannya.
“Nyari ini?” Tanya seorang laki-laki itu.
Kia yang berada di bawah kolong meja pun terkejut, hingga kepalanya terbentur meja.
“Aduh.” Ringis Kia sembari memegang kepalanya yang terbentur.
Kia keluar dari kolong meja, tangannya masih memegang pucuk kepalanya itu, ia membalikkan tubuhnya menghadap pria yang ada di belakangnya.
Saat ia melihat laki-laki itu, Kia langsung mematung.
Kia tercengang menatap laki-laki berbadan tinggi besar, memakai kemeja abu-abu dan memakai topi.
“Lo nyari ini, kan?” Laki-laki itu mengulang pertanyaannya sembari menyodorkan sebuah airpods milik Kia.
Kia tidak menggubris pertanyaan laki-laki itu dan masih menatapnya dengan raut wajah yang sedikit terkejut.
“Hei.” Ucap laki-laki itu sembari memetikkan jarinya di hadapan wajah Kia, membuat Kia sedikit terkejut.
“Eh?”
“Lo nyari ini, kan?” Tanya laki-laki itu lagi.
“I-iya,”
Kia meraih airpodsnya dan matanya kembali menatap laki-laki itu.
“Makasih.” Ucap Kia.
Laki-laki berbadan tinggi itu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi hendak meninggalkan kelas ini.
“Epan.”
Langkah laki-laki yang Kia sebut Epan itu terhenti.
Kia menghampirinya, “Kamu..”
Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menghadap Kia, “Epan, kan?” Lanjut Kia.
Laki-laki tersebut menghela napasnya, “Pake V, bukan P” Ujarnya dingin.
“Kamu Revan Raditama, kan?” Tanya Kia lagi.
Laki-laki itu tidak merespon Kia, ia langsung kembali pergi dan melangkahkan kakinya keluar kelas.
Saat sampai di ambang pintu, Kia menarik lengan laki-laki itu, membuatnya menghentikan langkahnya.
Evan melirik ke arah lengannya yang masih dipegang oleh Kia dan Kia sontak melepaskan tangannya dari lengan Evan.
“Lo yang waktu itu imess gue, ya?” Tanya Evan.
“Iya, kamu Epan, kan?” Lagi-lagi kia menanyakan hal itu.
“Udah gue bilang, gue bukan Evan. Nama gue emang Evan, tapi gue bukan Evan yang lo maksud.”
“Epan, ngga usah pura-pura lagi. Aku tau, kamu Epan.” Ujar Kia.
Lagi-lagi lelaki itu menarik napasnya dalam-dalam, “Harus berapa kali gue bilang? Gue ga kenal sama lo. Lo kenapa sokap banget sih?”
Kia masih mengelak, “Tapi nama kamu Revan Raditama, panggilan akrab kamu Epan, kamu juga tinggal di Bandung. Epan, kamu ngehindar dari aku?”
“So tau.”
“So tau? Aku tau itu semua dari Eja. Ga mungkin dia bohong.” Ujar Kia.
“Epan, ini aku, Nakia.”
Laki-laki itu menatap Kia dengan tajam, merasa mulai risih dengan Kia yang terus memastikan bahwa dirinya adalah Evan yang Kia kenal.
“Epan, kita udah ngga ketemu hampir tujuh tahun, aku engga tau kabar kamu gimana. Apa jangan-jangan, kamu amnesia?”
Mendengar kata-kata yang Kia ucapkan, laki-laki itu menaikkan ujung bibirnya, menciptakan smirk yang tipis.
“Stres lo.”
Evan bergegas pergi meninggalkan Kia. Kia mencoba memanggilnya kembali namun tidak ada respon sama sekali dari laki-laki yang kini langkahnya sudah mulai menjauh.