For the first time.
ㅡ
Nathan, laki-laki berkaus hitam itu sudah duduk manis dengan memainkan ponselnya di ruang TV apartemen kekasihnya.
Orang tua Alena memang tidak mengizinkan putrinya itu untuk tinggal dan menyewa kost-an, seingga orang tuanya memilih menyewakan apartemen untuk putrinya tempati di Jogja. Namun, karena kondisinya yang memiliki asma, Alena tidak tinggal sendiri, melainkan ada sahabatnya yang menemaninya. Siapa lagi kalau bukan Indira.
Alena dan Indira memang sudah berteman baik sejak menduduki bangku SMP, dan ketika SMA mereka berjanji untuk tinggal bersama jika mereka berdua diterima di PTN yang mereka ambisi bersama. Dan akhirnya, mereka pun diterima di sebuah PTN yang berada di Kota Jogja yang sejak lama sudah mereka impikan bersama.
Apartemen ini tidak terlalu besar, hanya memiliki tiga ruangan yaitu ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang TV, kamar tidur yang cukup luas sehingga bisa ditempati dua ranjang, satu untuk Alena dan satu untuk Indira, tentunya dengan disertai kamar mandi di dalam kamarnya dan ruangan terakhir adalah dapur.
Sebenarnya Alena hanya ingin menyewa kost-an, namun orang tuanya sangat tidak mengizinkannya. Berbeda dengan Nathan, yang menyewa kost-an di daerah yang lumayan dekat dengan apartemen Alena.
Alena menghampiri Nathan, dengan tangannya yang sudah membawa dua kotak susu dan beberapa ciki-cikian.
“Si Indira lagi ke mana? Kok sepi banget?” Tanya Nathan.
“Lagi keluar sama Agum kali” Jawab Alena asal.
Nathan mengangguk-nganggukan kepalanya, kemudian bertanya kembali, “Mau jalan ke mana?” Tanya Nathan.
Alena membuka satu kotak susu dan meneguknya. Setelah itu ia menjawab pertanyaan Nathan, “Terserah” Jawab Alena sembari menggeser duduknya mendekat kepada Nathan dan menyenderkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu.
Alena merubah posisinya, menidurkan kepalanya di atas paha Nathan dan meluruskan kakinya ke atas sofa.
“Nath” Ujar Alena.
Hanya gumaman yang Nathan jawab, “Hm?”
“Masa semalem aku mimpi, ga enak banget lagi mimpinya” Ujar Alena membuka topik obrolan.
“Mimpi apa?”
Alena terdiam, sehingga membuat Nathan melihat ke arahnya.
“Pesawat yang kamu naikin, kecelakaan” Ujar Alena.
Nathan semakin menatap Alena dalam, kemudian terkekeh “Ah, cuma mimpi”
“Iya, tapi jelek banget mimpinya”
Tidak ada jawaban lagi dari Nathan.
“Nath, ih”
“Apa?” Tanya Nathan.
“Kamu yakin mau ke Jakarta besok?”
“Ya yakin lah, emang kenapa?”
“Perasaan aku jadi ga enak” Ucap Alena.
Nathan menghembuskan napasnya, “Gara-gara mimpi itu?”
Alena merubah posisinya menjadi duduk tegak menghadap Nathan, “Iya” Ucapnya.
Nathan tersenyum tipis, “Gak apa-apa, Alena” Ujar Nathan sembari meraih bahu Alena dan menyenderkannya di dada bidangnya.
“Kalo kata orang tua, mimpi itu cuma bunga tidur, gak apa-apa” Ujar Nathan menenangkan Alena.
“Tapi aku takut”
“Kalo beneran kejadian, gimana?” Tanya Alena.
Nathan menghembuskan napasnya, mengusap halus kepala Alena, “Hei, itu cuma mimpi, Alena. Gak apa-apa. Kamu doain aja biar aku selamat sampai tujuan”
Alena terdiam.
Entah, mengapa ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Ia takut, jika mimpinya menjadi kenyataan.
Sudah tiga tahun semenjak hubungannya berakhir dengan Raka, dan sudah dua tahun ia menjalankan hubungannya dengan Nathan. Artinya, gadis itu membiarkan hatinya kosong tanpa ada pemilik selama satu tahun semenjak hubungannya berakhir dengan Raka.
Jujur saja, tidak mudah untuk melenyapkan rasanya pada pria yang bernama Raka itu. Tiap malam, ia selalu dihantui rasa takut. Takut jika ia tidak akan pernah bisa melepaskan rasanya.
Namun, ada sosok yang hebat yang mampu membantu dirinya dengan perlahan menghilangkan rasa cinta untuk masa lalunya.
Sosok itu adalah Nathan.
Nathan yang selalu menguatkan Alena, Nathan yang selalu ada untuk Alena ketika Alena lagi-lagi merasa tidak mampu untuk menghilangkan rasanya.
Hingga satu tahun penuh, Alena berhasil mengikhlaskan semuanya.
Walau tidak seratus persen ia bisa menghilangkan rasanya untuk masa lalunya.
Jika boleh jujur, terkadang Alena merasa menjadi manusia paling jahat.
Mengapa?
Karena sesungguhnya ia belum benar-benar menyelesaikan rasa untuk masa lalunya, padahal kini sudah ada Nathan, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik dari masa lalunya.
Namun, Alena tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk kekasihnya saat ini.
Alena, tetap mencintai Nathan walaupun rasanya tidak seperti ia mencintai Raka dulu.
Entah, Alena tidak bisa memberikan hatinya dengan penuh untuk laki-laki yang kini sedang bersamanya. Mungkin lebih tepatnya belum waktunya.
“Alena”
“Len?”
Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama.
“Alena” Ucap Nathan sembari menepuk pelan punggung kekasihnya.
Alena sedikit tersontak, “Hah, ya?” Sahut Alena yang masih dalam dekapan Nathan.
“Kok malah ngelamun?” Tanya Nathan.
“Gak apa-apa”
“Jangan dipikirin dong, kan cuma mimpi. Aku bakalan baik-baik aja” Ujar Nathan.
Alena sedikit mengembangkan senyumnya, “Janji?”
Nathan tersenyum, “Janji”
“Oh iya, Len”
“Hm?”
“Katanya mau” Ujar Nathan sedikit ragu.
“Mau apa?”
“Kiss”
Alena tersenyum, kemudian ia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Nathan.
Sebenarnya Nathan sedikit heran, ada apa dengan gadisnya? Selama dua tahun ia menjalankan hubungannya, Alena selalu menolak dan menjauh ketika Nathan mencoba mengecup bibirnya walaupun sekilas.
Nathan tersenyum, senyum manis yang entah sejak kapan menjadi candu bagi Alena.
Nathan sedikit menurunkan kepalanya menghampiri wajah Alena yang masih menyender di dada bidangnya.
Wajah Nathan semakin mendekat dengan wajah Alena, kemudian ia memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir sang gadisnya.
Alena sedikit terkejut ketika Nathan mencoba menelusupkan lidahnya. Namun, Alena akhirnya mulai menerima dan menutup matanya, merasakan dan mengikuti permainan bibir yang Nathan berikan.