I’m sorry

Alena membuka gerbang pintu rumahnya dan langsung terlihat jelas seorang laki-laki yang sedang berdiri menunggu sang pemilik rumah membuka gerbangnya.

“Alena..”

“Mau apa, Raka?”

Raka menarik lengan Alena dan langsung memeluknya.

“Len, maaf..”

Alena menghembuskan napasnya, “Buat apa? Kamu gak salah apa-apa”

“Jangan dengerin orang lain ya? Aku gak pernah malu punya kamu” Ujar Raka.

Alena melepaskan pelukannya, namun dengan cepat Raka menariknya ke dalam dekapannya lagi.

Namun, Alena tidak membalas pelukan itu.

“Alena, jangan pergi, aku minta maaf” Ucap Raka.

“Emang aku mau kemana? Aku di sini, aku gak kemana-mana”

“Aku sayang kamu, jangan dengerin orang lain, Len” Ujar Raka dengan suara yang mulai memberat.

“Raka, kamu nangis?” Ucap Alena masih dalam pelukan Raka.

Hening, tidak ada jawaban dari Raka.

Alena perlahan mulai mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Raka, Ia perlahan mengusap lembut punggung Raka.

“Alena, kita ngga akan putus kan? Iya kan? Jangan bilang putus lagi, please” Ujar Raka yang mulai sedikit terdengar isak tangisnya.

Alena terkekeh, “Lucu..” Ujarnya pelan.

“Len, serius” Tanya Raka yang sepertinya mendengar celetukan dari Alena.

Alena mengeratkan pelukannya, “Raka dengerin aku,”

“Aku minta maaf ya, aku gak bisa kaya perempuan lain” Sambungnya.

“Nggak, kamu nggak salah. Bahkan aku gak butuh perempuan lain, aku cuma butuh kamu”

“Kamu sayang aku kan?” Tanya Alena.

“Sayang, sayang banget..”

“Alena please jangan dengerin orang lain, kita yang jalanin hubungan ini, bukan mereka” Ujar Raka lagi.

“Aku gak pernah malu punya kamu, aku bersyukur bisa punya kamu” Ucap Raka, “Jangan bilang putus lagi, ya?” sambungnya.

Alena menghembuskan nafasnya, “Maaf ya tadi aku bilang gitu”

Alena ingin melepaskan pelukannya, namun lagi-lagi Raka menahannya.

“Raka, kamu bau asem” Ucap Alena.

Raka segera melepaskan pelukannya, “Maaf”

Raka memang baru saja menyelesaikan pertandingan basketnya, walaupun sudah tidak memakai kostum basket, tetap saja ia masih bau keringat karena buru-buru untuk menuju rumah Alena dan belum sempat untuk membersihkan badannya.

Alena tertawa pelan, “Pulang dulu gih, mandi terus istirahat”

“Tadi kamu kambuh lagi ya len?” Tanya Raka mengalihkan pembicaraan.

“Iya, tapi aku gak kenapa-napa”

“Maaf ya, jadi nggak dateng” Ujar Alena lagi.

Raka tersenyum, “Gak apa-apa, kalo kamu kenapa-napa bilang aku”

Alena memang sengaja tidak mengabari Raka kalau asmanya kambuh, karena ia tau Raka tidak akan fokus pada pertandingannya.

“Gih, pulang dulu” Ucap Alena.

“Tapi mau main, nanti kamu tunggu aku mandi dulu, di rumah ada Bila kok.”

“Kamu capek Raka, besok aja” Ucap Alena.

“Aku gak capek, mau sekarang, please ya?”

Alena menghembuskan nafasnya, “Aku izin bunda dulu”

Saat Alena membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumahnya, Raka tiba-tiba menarik lengan Alena.

Ia mengecup kening Alena.

Raka menampilkan senyumnya dan Alena hanya terdiam.

“Akhirnya bisa nyium kamu juga” Ujar Raka dengan senyum tanpa dosanya.

“Raka kalo ada yang lihat gimana?” Tanya Alena dengan pipi yang mulai memerah.

“Biarin, orang sepi. Bentar lagi kita lulus kan? Kalo udah lulus aku mau upgrade

Upgrade apa?”

“Mau cium bibir kamu” Ucap Raka.

Pipi Alena semakin memerah, “Orang gila”

Alena segera berlari masuk ke dalam rumahnya dan meminta izin kepada bundanya untuk pergi bersama Raka.

Melihat perempuannya yang salah tingkah, Raka tertawa pelan, “Gemes, pengen gue makan” Ujarnya.