;

“Oh iya, ya. Hari ini ada janji juga sama kak Fajar,” gumam Kia setelah melihat pesan dari Fajar.

Kia baru ingat, bahwa sebelumnya ia mempunyai janji kepada Fajar untuk pergi bersama. Namun, iya sudah terlanjur mengiyakan ajakan Evan yang entah akan mengajaknya ke mana.

Kia hendak mengirimkan pesan kepada Evan untuk meminta maaf karena tidak bisa menemaninya pergi. Namun, tiba-tiba saja ponselnya itu mati.

“Ah, pake lowbatt segala, mana ngga bawa powerbank.”

Kia meninggalkan ruangan kerjanya. Ia kemudian pergi untuk menghampiri salah satu temannya yang menjadi staff di kantor ini.

“Tania,” ucap Kia pada wanita yang bernama Tania itu.

“Iya, kenapa bu?”

Kia terkekeh, “Ah, kamu manggilnya pake Bu segala.”

Tania tertawa kecil, “Ya kali saya manggil namanya aja.”

“Kalo kamu manggil gitu, aku ngga bakal makcomblangin kamu sama si Agra ya,” ujar Kia.

Tania tertawa menanggapi ucapan Kia, “iya-iya. Kenapa, ki?”

“Nanti kalo ada Epan tolong bilangin aku pergi duluan ya, soalnya ada urusan. Ponsel aku mati, jadi ngga bisa ngabarin. Tadi juga aku udah coba ke ruangannya, tapi ngga ada orangnya.”

Tania mengangguk, “Oh, oke-oke siap. Lo mau jalan sama Fajar, ya?”

Kia tersenyum.

“Ah, udah jelas. Ya kali malem minggu kagak malmingan sama pacar,” ujar Tania.

Kia terkekeh, “Ya udah ya, aku duluan. Makasih, Tan.”

“Yoi. Hati-hati, Ki.”

Tania dan Kia sudah berteman baik semenjak mereka duduk di bangku SMP. Kini, Kia menjadi atasan Tania di kantor. Tetapi Kia tidak pernah mau jika ia disebut dengan sebutan yang formal oleh temannya itu.