Kia berjalan melewati koridor kampus, dengan tangan kanannya yang membawa sebuah cup kopi berisi kopi hangat dan tangan kirinya memegang ponsel. Gadis itu berjalan sembari memainkan ponselnya.
Hingga tiba-tiba dari arah yang berlawanan, Kia tak sengaja menabrak seorang perempuan yang juga berjalan sembari memainkan ponselnya.
Kopi milik Kia tumpah membasahi baju perempuan yang baru saja ditabraknya.
Tak hanya itu, ponsel milik Kia pun terjatuh di lantai, hingga layar ponselnya terlihat sedikit retak.
Perempuan yang ditabraknya itu mengambil ponsel milik Kia, kemudian disodorkannya pada Kia.
Kia meraih ponselnya, seraya berkata, “Kak, maaf. Aduh gimana ya, bajunya jadi kotor semua.” Ujar Kia yang panik melihat baju perempuan itu kotor karena tersiram air kopi miliknya.
“Ngga apa-apa, Ki. Gue bawa baju ganti kok.”
Kia menatap perempuan itu, dan ternyata dia adalah Sila.
“Sila?”
“Sila, maaf aku tadi jalan sambil mainin handphone. Ke kamar mandi ya, aku bawa baju ganti. Nanti kamu pake aja, terus baju kotornya aku bawa biar aku cuci.” Ujar Kia sedikit panjang lebar karena ia masih panik.
Sila tersenyum, “Ngga usah, ngga apa-apa. Gue juga bawa baju ganti kok. Gue juga tadi jalan sambil mainin handphone.” Ujar Sila.
“Ya udah kalo kamu bawa baju ganti, tapi baju kotornya aku bawa, biar aku cuci.
“Ngga apa-apa kia, ngga usah-“
“Sila” Ucapan Sila terpotong karena ada seseorang yang memanggilnya.
“Evan? Lo katanya udah mau pergi sama-“
“Baju lo kenapa?” Lagi-lagi ucapan Sila terpotong.
“Ngga apa-apa, ketumpahan kopi dikit.” Jawab Sila.
“Dikit apanya? Sampe kotor gitu.”
Evan melihat tangan Kia yang sedang membawa sebuah cup minuman, sehingga mengerti apa yang baru saja terjadi.
“Oh, lo nabrak Sila?” Tanya Evan pada Kia.
“Iya, tadi aku ngga sengaja. Tapi salah aku juga kok, tadi aku jalan sambil main-“
“Lo pinter drama ya.” Lagi-lagi Evan memotong pembicaraan lawan bicaranya.
“Sengaja kan lo?”
Kia menggeleng, “Ngga, aku ngga sengaja.”
“Lo ngga suka sama Sila, jadi lo sengaja nabrak dia sampe numpahin minuman lo ke bajunya, kan?”
“Udah, Evan. Orang Kia ngga sengaja kok.”
“Lo diem aja.” Ucap Evan pada Sila yang mulai menahannya.
“Gue tau lo kesel sama gue gara-gara gue nyuruh lo stop buat naro makanan di locker gue, tapi ngga gini juga cara lo ngebalesnya.”
“Lo diem-diem licik juga, ya.” Ujar Evan.
“Evan, Kia ngga salah, tadi dia ngga sengaja nabrak aku. Akunya juga tadi jalan sambil main handphone.” Ujar Sila membela Kia.
“Gue bilang lo diem aja.”
“Lo ngga suka sama Sila gara-gara dia deket sama gue? Iya?”
Tak ada jawaban dari Kia, gadis itu mulai menundukkan kepalanya.
“Lo sadar ngga sih, kalo lo murahan? Padahal lo udah punya cowok, masih aja gangguin cowok lain.”
“Inget ya, jangan gangguin Sila. Kalo lo gak suka sama gue, ya urusan lo sama gue, bukan sama Sila.”
“Muka lo yang lugu, so polos, bisa nipu banyak orang, ya?”
“Kelakuan lo bertolak belakang banget sama muka lo yang so polos.” Ujar Evan.
Banyak orang yang mulai menghampiri dan menonton Evan yang sedang memarahi Kia.
Saat Evan sedang mengeluarkan segala perkataan yang membuat hatinya terluka, Kia menatap sebuah gelang tali yang melingkar di pergelangan tangan Evan. Gelang yang dahulu pernah Kia berikan pada Evan sebagai tanda persahabatannya, ternyata masih dipakai oleh laki-laki itu.
Semua memori saat ia dan Evan masih berumur dua belas tahun terputar di otaknya. Teringat bagaimana dulu Kia membela dan melindungi laki-laki lemah itu dari Aldo dan semua orang yang mencoba menjahatinya.
Namun kini, apa balasan laki-laki itu? Hanya hal sepele yang tak sengaja Kia lakukan pun, Evan sampai memakinya di depan banyak orang.
Jangan ditanya, tentu sangat sakit.
Sila sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Evan ucapkan, ia merasa tidak enak pada Kia.
“Van, lo kok ngomong gitu sih? Gue udah bilang Kia ngga salah.” Ucap Sila.
Evan menatap Kia dengan tatapan tajamnya, menampilkan raut wajah yang sedang menahan amarahnya.
Evan kemudian menarik tangan Sila, membawanya pergi dari hadapan Kia.