Kita (dan akhir).

Fajar menutup kembali kotak merah berisi cincin yang tadinya hendak dilingkarkannya pada jari manis milik kesayangannya.

Kotak cincin itu ditutupnya dengan beribu-ribu rasa kecewa.

“Kak, maaf ....”

Entah terbuat dari apa hati laki-laki ini hingga masih bisa melengkungkan bibirnya, menciptakan senyum manis yang sebenarnya penuh luka. Senyum yang selalu menjadi candu bagi Kia dan senyum yang selalu bisa menyalurkan ketenangan untuk Kia. Namun hari ini, Kia melukai hati si pemilik senyum yang paling damai itu.

“Kenapa baru sekarang?”

“Kenapa ngga bilang dari dulu?”

“Semua yang kita lewatin lebih dari tujuh tahun itu apa?” tanya Fajar berturut-turut.

Kia berani bersumpah, saat ini ia merasa menjadi manusia paling jahat, paling bodoh, dan paling kejam.

“Maafin aku ....” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Kia.

Fajar menghembuskan napasnya gusar dan memejamkan matanya sejenak.

“Dari awal,”

“Dari awal aku udah ngga enak rasa sama kedeketan kamu sama Epan.”

“Aku kurang apa? Aku kurang apa sama kamu?”

Kia meremas bajunya, tak menjawab pertanyaan dari Fajar.

Fajar meraih kemudian menggenggam tangan kecil milik Kia. Air matanya mulai membasahi pipinya.

“Bahagianya kamu ... bukan aku, ya?”

“Maaf ....” Lagi-lagi, Kia hanya bisa meminta maaf.

“Oke,”

“Pergi sekarang, samperin dia.”