”Lo suka sama cewek gue?”

Dengan langkah yang cepat, Raka bergegas menuju parkiran sekolah untuk menemui Nathan.

Ya, sekarang adalah jam pulang sekolah. Namun sudah hampir semua murid keluar dari gedung sekolah ini.

Tangannya sudah mengepal sedari tadi.

Raka memberhentikan langkahnya saat melihat Nathan sudah berada di depannya.

Raka memajukan kakinya beberapa langkah sehingga jaraknya sangat dekat dengan Nathan.

Bugh!

Satu pukulan mendarat tepat di pipi kanan Nathan.

Nathan menunjukkan smirknya, “Harusnya lo yang pantes dapet ini bangsat!” Ujar Nathan dengan sangat lantang.

Dua pukulan juga mendarat tepat di dua pipi Raka.

Hanya dua sampai tiga siswa yang menonton aksi tersebut dan mereka semua adalah siswa perempuan, sehingga tidak ada yang memisahnya dan hanya berteriak saja.

Entah ke mana satpam sekolah ini, karena jika ada satpam pasti mereka sudah dipisahkan.

Nathan mengcengkeram kerah baju Raka, “Maksud lo apa anjing? Maksud lo apa hah?” Ujar Nathan dengan penuh emosi.

“Apa hubungannya sama lo? Lo siapanya Alena gue tanya?”

Raka menepis tangan Nathan yang masih mencengkeram kerah bajunya, “Gak usah ikut campur lo bangsat!”

“Gak usah ikut campur? Lo nyakitin Alena bisa gue diem aja?”

“Lo suka sama cewek gue?” Tanya Raka yang langsung melayangkan pukulannya lagi tepat di pinggir bibir Nathan.

Sedikit darah pun mulai keluar dari ujung bibir Nathan.

Nathan mengusap darahnya, “Alena juga temen gue!” Ucap Nathan yang juga membalas pukulannya ke pipi kiri Raka.

“Raka!” Ujar seorang perempuan yang melihat perkelahian mereka.

Perempuan itu adalah Alena.

Alena segera berlari menghampiri dua lelaki yang sedang saling memukul itu.

Nathan melihat Alena yang menghampiri mereka berdua sehingga ia berhenti membalas pukulan dari Raka.

Raka masih belum sadar jika kini sudah ada Alena, sehingga ia masih memukul pipi Nathan sampai Nathan jatuh ke tanah.

“Raka, Stop!” Teriak Alena.

Mendengar itu Raka menghentikan pukulannya, ia menengok ke kanan dan terlihat sudah ada perempuannya.

Raka melepaskan cengkeraman di baju Nathan.

“Kalian apa-apaan berantem gini?” Tanya Alena dengan wajah paniknya.

“Alena..” Ujar Nathan, ia bangkit kemudian mengusap ujung bibirnya yang berdarah itu.

“Raka, kamu kenapa berantem sama Nathan?” Tanya Alena lagi.

Raka terdiam.

“Jawab Raka!”

Tidak ada jawaban dari mereka berdua, sampai pada akhirnya Nathan membuka suara.

“Tadi motor Raka nyenggol motor gue, gue yang emang dari tadi lagi emosi terus, jadi kebablasan nonjok Raka” Jelas Nathan.

Nathan Berbohong.

“Bohong, masa cuma gara-gara itu” Ucap Alena tidak percaya.

“Beneran, tuh liat aja samping motor gue lecet” Ucap Nathan.

Alena melihat ke arah motor Nathan yang memang tampak ada sedikit goresan.

“Motor Raka kok gak ada yang lecet?” Tanya Alena lagi.

“Ya lagi lucky aja dia, makannya gak ada yang lecet” Jawab Nathan berbohong lagi.

Raka masih menatap Nathan dengan sinis, kemudian ia menarik tangan Alena.

“Ayo pulang” Ujar Raka kepada Alena.

Raka memakaikan helm pada Alena, kemudian melajukan motornya meninggalkan Nathan.

“Brengsek” Gumam Nathan setelah Raka melajukan motornya.

Saat dalam perjalanan, Alena memajukan kepalanya melirik pipi Raka yang ia lihat tadi sudah sedikit lebam.

Namun tidak terlihat, karena tertutup helmnya.

“Ka, pipi kamu sampe merah gitu, sakit ya?” Tanya Alena.

“Pegangan”

“Hah?”

“Pegangan Alena, nanti jatuh” Ucap Raka.

Alena memegang jaket yang menutupi seragam Raka, namun Raka segera meraih tangan Alena dan melingkarkannya di perutnya.

“Pegangan yang bener” Ujar Raka.

“Raka mau ke rumah kamu dulu, mau ngobatin pipi kamu”

“Aku gak apa-apa, aku langsung nganter kamu pulang aja”

“Gak mau, mau ngobatin kamu dulu” Ucap Alena lagi.

Raka menghembuskan napasnya gusar lalu mengiyakan perminta Alena dan mereka kini menuju rumah Raka.