Lost

Siang yang tidak terlalu cerah, yang menampilkan langit gelapnya pertanda akan turun hujan seolah mewakili perasaan seorang gadis yang kini sedang berlari menuju parkiran sekolah, menghampiri laki-laki yang sedang duduk di atas motornya dengan sebuah ponsel di tangannya.

“Raka” Ujar gadis itu saat tiba di depan laki-laki yang ia panggil Raka.

Raka hanya menengok dengan tatapan malasnya.

Sekarang adalah jam pulang sekolah, dan lingkungan sekolah ini sudah cukup sepi, di parkiran pun hanya ada mereka berdua.

Gadis itu masih sedikit terengah-engah karena ia baru saja berlari untuk menghampiri Raka, “Kamu kenapa dari tadi ngejauh terus? Aku mau ngomong” Ujar Alena.

Gadis itu adalah Alena.

Tak ada respon dari Raka, ia masih menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan malasnya.

“Raka..”

Lagi-lagi tak ada respon, bahkan si pemilik nama malah melanjutkan memainkan ponselnya.

“Raka dengerin aku dulu” Ucap Alena yang berhasil mengambil ponsel Raka dari tangannya.

“Balikin” Ucap Raka.

“Raka, kamu salah paham”

“Balikin!” Ucap Raka dengan nada yang cukup membentak.

Alena terkejut, ini adalah pertama kalinya Raka mengucapkan sesuatu dengan nada yang membentak pada dirinya.

“Raka, kamu tau kenapa malam itu aku bisa di pantai sama Nathan?” Tanya Alena.

Raka menghembuskan napasnya disertai dengan senyum sinisnya, “Gak tau, dan gak mau tau. Soalnya bukan urusan gue lagi”

“Nathan kirim foto kamu sama Naya” Alena tetap memberitahu alasannya.

“Raka, kita hampir genap dua tahun, kan? Dua bulan lagi hubungan kita tepat dua tahun, kan?” Tanya Alena yang tak mendapati jawaban dari Raka.

“Udah satu bulan ya, semenjak kamu cium Naya?” Tanya Alena membuat Raka sedikit tersentak.

“Apa selama satu bulan ini aku ada marah sama kamu?”

“Apa semenjak aku tau semuanya, aku minta buat ngakhirin ini semua?”

“Jawab, Raka”

Raka menundukkan kepalanya, kemudian ia menerbitkan senyum yang tak bisa diartikan.

“Oh, lo udah tau tentang itu? Syukur deh” Ujar Raka.

Mendengar jawaban dari Raka, Alena terkejut. Kenapa laki-lakinya ini menjawab seperti itu?

“Raka..”

“Apa? Gak ada bedanya kan gue sama lo?”

“Gue juga sebenernya capek tau gak? Gue yang berusaha selalu jagain lo, berusaha nahan malu sama pertanyaan orang kenapa gue mau pacaran sama cewek penyakitan kaya lo, yang udah sering banget jadi bahan gibah di base gara-gara lo, eh lo malah enak-enakan pelukan sambil menikmati pantai sama Nathan. Waras lo?”

Sakit, sangat sakit ketika Alena harus mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulut laki-laki yang sangat ia cintainya.

“Raka...”

“Aku udah bilang kan sebelumnya? Kalo kamu malu punya aku, bilang dan terus terang sama aku, bukan gini caranya” Ujar Alena yang matanya kini mulai berkaca-kaca.

Raka tidak merespon perkataan dari Alena, laki-laki itu malah meminta Alena untuk mengembalikan ponselnya.

“Balikin hp gue, gue mau telfon Naya”

“Kamu mau ngapain, Raka?” Tanya Alena.

“Ya, mau ngapain aja. Suka-suka gue, kan? Emang sekarang lo siapa gue?”

Jujur saja, Alena tidak kuat untuk menahan air matanya. Dadanya mulai terasa sesak saat ia mendengarkan perkataan yang sebelumnya tidak pernah Raka katakan padanya.

“Oke...”

Let’s break up” Ujar Alena yang ternyata satu tetes air matanya mulai jatuh membasahi pipi cantiknya.

Plak!

Satu tamparan tepat mendarat di pipi kanan Raka.

Alena sangat terkejut ketika Nathan yang tiba-tiba datang dan langsung menampar Raka dengan keras.

“Cocot lo kendor banget” Ucap Nathan yang kemudian meraih tangan Alena dan segera membawanya pergi, sehingga ponsel milik Raka yang masih ada di tangan Alena pun tak sengaja ia jatuhkan karena tangannya yang tiba-tiba ditarik oleh Nathan.